Wartawan Kompass Indonesia Resahkan Pejabat di Riau

Wartawan Kompass Indonesia Resahkan Pejabat di Riau

- detikNews
Rabu, 20 Apr 2011 17:13 WIB
Pekanbaru - Sejumlah wartawan dilaporkan kerap membuat resah di lingkungan Pemprov Riau. Jika berulah dan lantas terdesak, para wartawan ini akan mengeluarkan kartu pers Kompass (bukan Kompas-red) Indonesia.

Karo Humas Pemprov Riau, Chairul Riski, mengeluhkan pernah dikerjai kelompok wartawan yang diduga gadungan tersebut. Dalam perkenalannya, mereka tetap mengaku sebagai wartawan Kompas sungguhan. Namun ketika didesak untuk mengeluarkan kartu pers mereka, yang keluar adalah kartu pers Kompass Indonesia, dengan dua huruf 'S' pada kata Kompas.

"Kalau sudah terdesak, mereka keluarkan kartu pers atas nama Kompass Indonesia. Tapi kemana-mana mereka tetap saja mengaku sebagai wartawan Kompas. Mereka ini juga sering keluar masuk di lingkungan Kantor Gubernur Riau," kata Riski kepada detikcom, Rabu (20/4/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wartawan Kompass ini juga kerap wara-wiri di Mapolresta Pekanbaru. Belum lama ini oknum wartawan tersebut selalu meminta bertemu dengan Kapolresta atau Kasat Reskrim. Tidak jelas apa kepentingannya. Namun bila tidak diizinkan, maka mereka akan sewot lantas menyebutkan dirinya dari Kompas.

"Kami yakin dia itu wartawan gadungan. Tapi setelah kami minta kartu persnya, mereka baru mengaku sebagai wartawan Kompass Indonesia. Namun kalau perkenalan ngakunya dari Kompas, tidak pernah disebutkan embel-embel di belakang ada 'Indonesia'-nya," ujar staf di Mapolresta Pekanbaru yang tidak bersedia disebutkan namanya.

Akibat ulah wartawan bodrex ini, wartawan Kompas sungguhan di Riau menjadi direpotkan. Syahnan Rangkuti, wartawan Kompas di Riau, kepada detikcom mengakui dirinya kerap menerima keluhan dari sejumlah pejabat terkait wartawan Kompass Indonesia.

Hari ini misalnya, Kepala Taman Nasional Tesso Nilo, Hayani mengaku didatangi kelompok wartawan Kompass Indonesia. Wartawan itu datang bak sebagai penyidik yang meminta laporan keuangan.

"Barusan saja Kepala Taman menelepon saya, dia juga ditemui seseorang yang mengaku sebagai wartawan Kompas. Tapi setelah diminta kartu persnya, mereka menunjukan Kompass Indonesia. Saya kira kalau memang wartawan gadungan ini ingin memeras. Sebaiknya pihak-pihak yang merasa dirugikan silakan saja laporkan ke pihak kepolisian," kata Syahnan memberi saran.

(cha/fay)


Berita Terkait