Seminar bertajuk 'PLTN dan Masa Depan Bangsa' dan berlangsung di Universitas Katolik Soegiyapranata, Semarang, Rabu (20/4/2011). Pesertanya kurang lebih 100 orang yang terdiri dari mahasiswa, warga dan aktifis LSM Greenpeace.
"Batan itu apa? Punya rumah di Jepara tapi tak pernah ditengok. Kalau berani, kami tunggu di Balong!" teriak Imam saat sesi tanya jawab dimulai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang peserta lainnya menuding Batan tidak terbuka menyampaikan informasi. Sebab selama ini informasi mengenai dampak dan resiko nuklir sangat tidak sedikit yang disampaikan.
Tak hanya peserta, George Junus Aditjondro yang jadi pembicara menimpali dengan tudingan korupsi sehingga suasana bertambah gaduh. "Kenapa menteri dan bawahan SBY-Boediono ikut ngotot membangun PLTN, ya mungkin karena bakal kecipratan proyek. Sebagaimana diketahui, proyek biasanya sarat korupsi," katanya disambut tepuk tangan peserta.
Pembicara lain dari Greenpeace, Arif Fianto, juga tak mau ketinggalan melempar tudingan. Dia menyebut bahwa Hudi Hastowo (salah seorang petinggi Batan) terus berupaya membangun PLTN karena hampir pensiun sehingga bakal lolos dari resiko negatifnya kelak.
"Sudahlah, orang-orang tua di Batan, biarlah kami, generasi muda ini, menentukan masa depan kami sendiri. Kami ingin energi yang lebih baik," sambungnya.
Perwakilan Batan, Sriyana tampak kalem menanggapi semua cercaan. Ia menyatakan, jadi tidaknya PLTN dibangun, sangat tergantung Kementerian ESDM. "Batan hanya pelaksana. Semua masukan ini, pasti saya sampaikan ke atasan," katanya.
Untungnya situasi cukup terkendali hingga akhir acara.
(try/lh)











































