DPR Akan Potong Setengah Anggaran Kunker Luar Negeri

DPR Akan Potong Setengah Anggaran Kunker Luar Negeri

- detikNews
Rabu, 20 Apr 2011 11:43 WIB
DPR Akan Potong Setengah Anggaran Kunker Luar Negeri
Jakarta - Dewan Perwakilan Rakyat merespon kritik keras Dubes RI untuk Swiss Djoko Susilo yang menuturkan 90 persen kunker luar negeri DPR tak bermanfaat. DPR pun akan memangkas setengah anggaran kunker ke luar negeri.

"Karena banyaknya kritikan saya juga akan dorong DPR bisa pangkas 40-50 persen dari anggaran yang ada dalam rangka efisiensi dan kunjungan selektif dan berdayaguna. Efisiensi, selektif dan berdayaguna. Tiga hal itu yang akan menjawab kritik rakyat," ujar Wakil Ketua DPR, Priyo Budi Santoso, kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (20/4/2011).

Menurut Priyo studi banding DPR ke luar negeri tetap membawa manfaat. Utamanya menyangkut komunikasi yang lebih baik antar kedua negara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pasti ada manfaatnya, nggak mungkin nggak, mengetahui sistem negara lain. Hubungan antara parlemen kedua negara, dan membawa nama Indonesia. Dalam perkembangan demokrasi, posisi parlemen semakin sentral dan publik bisa menelanjangi parlemen maupun istana," jelas Priyo.

Pemerintah, menurut Priyo, juga rutin menyelenggarakan kunjungan kerja ke luar negeri. Semuanya juga membawa manfaat untuk membina hubungan kerjasama Indonesia dengan negara tetangga.

"Kalau boleh kritik juga, kunjungan kerja luar negeri dari pemerintah, DPD, setara dengan DPR. Media tidak pernah kritik. Yang kedua, yang lebih besar anggaran pemerintah itu luput dari perhatian media," sindirnya.

Sebelumnya diberitakan, Dubes RI di Swiss Djoko Susilo menolak kunjungan kerja DPR ke Swiss. Ia menganggap mayoritas kunjungan kerja DPR tidak ada gunanya.

"Berdasarkan pengalaman saya setahun jadi Dubes. Bukan hanya di Swiss tapi berdasarkan informasi dari teman-teman Dubes di Eropa seperti Belanda, Jerman dan Prancis, 90 persen tidak ada manfaatnya," terang Djoko kepada detikcom.

Kunjungan DPR ke luar negeri, menurut Djoko hanya digunakan untuk berwisata.

"Ada ciri khasnya, biasanya negara yang dipilih adalah negara mapan atau maju, dimana kemudian kepergian ini bisa jadi ada kegiatan sampingan seperti belanja atau berwisata," papar Djoko yang pernah menjadi anggota DPR ini.

(van/her)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads