"Kita masih menunggu surat jalan dari Matraman (RSCM)," kata Theresia (33), istri Helmy, di RS UKI, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (19/3/2011).
Theresia mengatakan, saat tiba di rumah sakit UKI pada Senin 11 April malam, terdapat memar-memar di sekujur tubuh Helmy. Pada Jumat (15/4), kondisi Helmy mulai membaik dan sudah bisa bicara dan bercanda. Namun kemudian kondisinya memburuk lagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian pada, Senin (18/4), keluarga sempat ingin membawa Helmy pulang karena sudah cukup sehat. Saat ingin membayar biaya pengobatan, Helmy muntah darah dan badannya membiru. Beberapa saat kemudian, Helmy meninggal.
Saat di RS UKI, Helmy sempat bercerita kalau dirinya disiksa oleh sekelompok orang. Helmy dipaksa masuk ke mobil dan dibawa masuk ke sebuah markas. Saat memasuki pos pemeriksaan, tubuh Helmy diinjak sehingga tidak terlihat penjaga.
"Dalam markas itu dipukuli terus dibuang ke PGC," imbuh Theresia.
Helmy juga sempat disuruh menandatangani surat pernyataan yang isinya tidak akan mengajukan tuntutan. "Sekarang kasusnya masih diproses di polisi," ucap Theresia.
(nal/vta)











































