Warga Johar Baru 'Akrab' dengan Tawuran & Klonongan

Warga Johar Baru 'Akrab' dengan Tawuran & Klonongan

- detikNews
Selasa, 19 Apr 2011 12:26 WIB
Jakarta - Pria berambut panjang itu tengah asyik menyapu lantai dan ngobrol dengan tetangganya. Salon yang seharian kemarin ia tutup, pagi ini mulai ia buka kembali.

"Ini saya buka lagi. Kemarin seharian tutup. Takut ada tawuran," ujar pria yang akrab disapa Mami Linda ini kepada detikcom di depan salonnya di RW 03, Kelurahan Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, Selasa (19/4/2011).

Mami Linda menuturkan, tawuran memang kerap terjadi di kampung tempat di mana ia telah tinggal selama 23 tahun. Namun ia lupa sejak kapan tawuran mulai sering terjadi. Ia juga tak tahu menahu sebab terjadinya tawuran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena telah akrab dengan tawuran, perkelahian antar warga yang terjadi di depan tempat usahanya itu sudah merupakan hal yang biasa bagi Linda.

"Kemarin saja setelah tutup pintu, saya tinggal tidur di atas," ucapnya.

Namun, tawuran yang kerap terjadi tetap membuat dirinya takut. Apalagi jika mereka yang terlibat tawuran menggunakan api, seperti petasan dan bom molotov.

"Takut kalau kebakaran, bisa habis usaha saya, siapa mau ganti," katanya.

Hal senada diungkapkan Sutinah, ibu penjual soto di daerah Johar Baru khawatir dengan digunakannya petasan dan bom molotov. Ia takut api akan membakar rumah dan tempat usahanya yang ada di pinggir jalan di RW 12.

"Takut banget mas, apalagi masih punya anak kecil," kata Sutinah.

Sutinah mengatakan, tawuran biasanya akan terjadi jika para pemuda mulai kumpul-kumpul di malam hari. Jika tak ada patroli polisi, biasanya lantas pecah tawuran.

"Terus biasanya ada klonongan, biasanya Pak RT yang bunyiin," ucap Sutinah.

Klonongan adalah semacam alarm bagi warga Johar Baru. Ia adalah bunyi-bunyian yang dihasilkan dengan memukulkan batu atau tongkat besi pada tiang listrik berkali-kali. "Biasanya sampai lima menit," tambah Sutinah.

Mendengar klonongan ini, warga lantas bergegas menutup semua pintu gerbang pada setiap gang. Hampir semua pintu gang di Johar Baru kini terdapat pintu besi. Pintu gang ini mencegah mereka yang terlibat tawuran untuk merangsek ke rumah warga.

"Pagar pintu ini hasil patungan masyarakat. Ada yang ngasih 50 ribu, 20 ribu, 10 ribu juga ada, seikhlasnya," jelas ibu berambut pendek ini.

Meski tawuran kerap terjadi dan bahkan mengancam usaha dan jiwa mereka, warga Johar Baru mengaku enggan untuk pindah rumah. Mereka meminta agar aparat kepolisian yang lebih meningkatkan penjagaan.

Pantauan detikcom di lapangan, aktivitas warga Johar Baru kini sudah berlangsung seperti biasa. Warung makan dan toko-toko menjajakan dagangannya, lalu lintas pun nampak ramai. Anak-anak kecil terlihat riang bermain sepeda dan berlarian di gang. Tak terlihat tanda-tanda warga mengalami trauma akibat tawuran yang terjadi kemarin pagi. Meski demikian tiga orang anggota kepolisian nampak berjaga di sebuah perempatan.

Tawuran di Kecamatan Johar Baru memang kerap terjadi. Terakhir tawuran antar warga meletus Senin (18/4/2010). Tawuran ini menyebabkan sejumlah warga mengalami luka akibat lemparan batu dan benda tumpul lainnya.


(adi/gun)


Berita Terkait