Inggris Pernah Bahas Soal Minyak Sebelum Ikut Menginvasi Irak

Inggris Pernah Bahas Soal Minyak Sebelum Ikut Menginvasi Irak

- detikNews
Selasa, 19 Apr 2011 12:03 WIB
Inggris Pernah Bahas Soal Minyak Sebelum Ikut Menginvasi Irak
London - Sebelum ikut menginvasi Irak, pemerintah Inggris ternyata pernah membahas rencana untuk mengeksploitasi cadangan minyak Irak dengan sejumlah perusahaan minyak terbesar dunia. Pembicaraan dengan perusahaan BP, Royal Dutch Shell dan BG Group itu dilakukan lima bulan sebelum Inggris bergabung dengan Amerika Serikat dalam menginvasi Irak.

Demikian diberitakan surat kabar Inggris, Independent yang mengutip dokumen-dokumen yang diperoleh atas dasar Undang-Undang Kebebasan Informasi.

Menurut Independent seperti dilansir Reuters, Selasa (19/4/2011), setidaknya lima pertemuan digelar antara pejabat-pejabat pemerintah Inggris dengan perusahaan minyak BP dan Shell pada Oktober dan November 2002.

"Shell dan BP tidak bisa untuk tidak memiliki kepentingan di Irak demi masa depan jangka panjang mereka," kata Edward Chaplin, mantan direktur Timur Tengah Kantor Luar Negeri Inggris usai pertemuan dengan perusahaan-perusahaan minyak pada Oktober 2002.

Sebulan kemudian, Kantor Luar Negeri Inggris mengundang BP kembali untuk membahas peluang di Irak pasca perubahan rezim. Dalam pertemuan itu terungkap bahwa BP sangat ingin masuk ke Irak. BP cemas jika kesepakatan-kesepakatan politik tidak memberikan kesempatan bagi BP.

Menurut Independent, BP menyatakan pada Kantor Luar Negeri Inggris bahwa Irak "lebih penting daripada apapun yang telah kami temui dalam waktu lama".

Menteri Perdagangan Inggris saat itu Elizabeth Symons, menjamin BP bahwa pemerintah Inggris yakin bahwa BP harus mendapat bagian dalam cadangan minyak dan gas Irak, mengingat komitmen Blair akan rencana invasi AS.

Keputusan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair untuk mendukung invasi AS ke Irak pada tahun 2003 lalu merupakan keputusan paling kontroversial selama 10 tahun kepemimpinan Blair. Keputusan itu menimbulkan perpecahan internal serta aksi protes besar-besaran di dalam negeri. Blair pun dituding telah menipu warga Inggris terkait alasannya mendukung invasi Irak ketika senjata pemusnah massal tidak ditemukan.


(ita/nrl)


Berita Terkait