"Pihak KBRI dan KBRI Watch sependapat bahwa masalah keselamatan staf RT yang kabur dari Wisma Dubes harus menjadi concern seluruh anggota masyarakat Indonesia, karena banyak kasus para staf yang lari akhirnya menjadi korban human trafficking," kata Koordinator KBRI Watch, Irwan Rosyadi dalam siaran pers, Senin (18/4/2011).
Pertemuan aktivis KBRI Watch dan pihak KBRI dilaksanakan hari Rabu malam (13/4) di KBRI Washington DC. Sebelumnya, KBRI Watch mendapat pengaduan dan laporan masyarakat melalui e-mail KBRI Watch atas 'hilangnya' 4 staf RT di Wisma Dubes.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seorang diplomat dari bidang konsuler memberi informasi bahwa kasus 3 staf rumah tangga yang kabur sebelumnya sudah dilaporkan ke pemerintah AS melalui Department of State, karena mereka dianggap menyalahi kontrak. Sedangkan staf rumah tangga ke-4 yang terakhir kabur (yang bekerja sebagai babby sitter) masih terus dicari," tulis Irwan.
Menurut diplomat tersebut, 3 staf RT wisma Dubes yang kabur lebih dahulu, paspornya juga telah dicabut (di-revoke) oleh pihak KBRI. Untuk staf RT yang keempat, yang kabur terakhir, diplomat bidang konsuler ini juga menegaskan bahwa KBRI siap 'menempuh segala cara' untuk menemukannya.
"Ini karena si baby sitter ini kabarnya sudah cukup lama ikut keluarga Dubes Dino Djalal (lebih dari tujuh tahun). Bahkan kata diplomat ini, kalau perlu KBRI siap 'ancur-ancuran' untuk menemukan staf yang satu ini," imbuhnya.
KBRI Watch terkejut dan sangat menyesalkan dalam pertemuan resmi ini seharusnya tidak perlu dikeluarkan pernyataan yang sifatnya mengancam atau menunjukkan sikap emosional. Mereka yakin ucapan diplomat tersebut pasti tidak mencerminkan kebijakan yang dilakukan atau yang akan ditempuh KBRI selaku perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri.
"Pihak KBRI tetap berpandangan bahwa permasalahan staf rumah tangga di Wisma Tilden adalah permasalahan internal antara Duta Besar dengan staf yang bersangkutan, karena sebelum berangkat mereka para staf RT itu sudah menandatangani kontrak kerja," tutur Irwan.
Sebagai catatan, seluruhnya ada 8 orang staf yang dibawa Duta Besar Dino Djalal dari Indonesia, ditambah setidaknya dua staf lama di Wisma Tilden dan sopir yang juga disediakan KBRI.
"KBRI Watch mengemukakan concern bahwa persoalan ini tidak lagi 'hanya' menjadi persoalan internal keluarga Dubes, bila masyarakat sudah menanyakan dan melaporkan pengaduan mengenai mengapa jumlah staf rumah tangga yang dibawa terlalu besar, dari mana mereka digaji, dan bahkan menanyakan kenapa sampai para staf RT itu sampai mengambil risiko 'melarikan diri' dari majikannya? Apakah ada perlakuan yang kurang semestinya atau gaji yang terlalu rendah?" urai Irwan.
Dalam pertemuan itu, pihak KBRI Watch juga menanyakan kebenaran informasi pihak KBRI hanya membayar 2 (dua) staf RT dengan dana anggaran (APBN). Karena menurut perhitungan KBRI Watch, setidaknya ada 10 orang, ditambah seorang sopir yang bekerja untuk keluarga Duta Besar.
KBRI Watch juga menerima informasi ini dari salah seorang diplomat senior, bahwa jatah staf RT, seorang Duta Besar RI adalah 3 orang, sedangkan 2 orang adalah untuk Wakil Dubes atau DCM (Deputy Chief of Mission). Pihak KBRI mengatakan bahwa urusan Staf RT lainnya yang di luar tanggungan KBRI adalah urusan internal Duta Besar.
"Kami dari KBRI Watch sempat mengemukakan concern apakah dengan jumlah staf RT yang terlalu banyak, yang di luar tanggungan negara, penggajian para staf RT dari dana pribadi Duta Besar itu tidak memberatkan keluarga Duta Besar?" ungkapnya.
Selain itu, berdasarkan perhitungan kasar KBRI Watch, penggajian staf yang di luar tanggungan KBRI bisa memakan biaya sekitar US$ 5 ribu dolar lebih per bulan, yang tentunya harus ditanggung dari kantong pribadi keluarga Duta Besar.
"Jumlah ini menurut pandangan kami merupakan suatu jumlah pengeluaran yang cukup besar, meskipun itu ditanggung oleh seorang Dubes sekalipun. Sehingga jarang kami temui pejabat selevel menteri di AS yang mempunyai staf RT sebanyak itu. Apalagi seorang Duta Besar dari negara berkembang seperti Indonesia yang anggarannya tentu serba terbatas. Ini pula yang menjadi pengaduan dan keluhan anggota masyarakat yang masuk kepada KBRI Watch," urai Irwan.
Sebelumnya, terkait staf rumah tangga yang kabur ini, Dubes RI untuk AS, Dino Patti Djalal, membenarkan ada staf rumah tangganya yang meninggalkan rumah tanpa pamit dan tidak ada kabarnya. Sejauh ini, menurut dia belum ada keperluan untuk melaporkannya sebagai kasus orang hilang ke kepolisan Washington DC.
"Nampaknya mereka sudah merencanakannya cukup lama, mungkin sejak awal kedatangan bersama kami di Washington DC. Hal seperti ini bukan sesuatu yang baru di sini," kata Dino kepada detikcom, Senin (11/4).
Meski merasa kecewa, Dino menolak untuk menyebut nama staf rumah tangga yang pergi begitu saja tanpa pamit secara baik-baik. Dia dan keluarga bahkan merasa dikelabui sebab memang nampaknya tujuan sebenarnya para staf rumah tangga itu bersedia ikut ke Washington DC adalah sebagai batu loncatan mencari kerja dan tinggal di AS.
"Saya berdoa agar mereka selamat. Tidak lengah hingga menjadi korban dari people trafficking yang memang menjadi masalah di AS," sambungnya.
(ndr/fay)










































