"Dia dulunya alirannya majelis tabligh dan assunnah. Yang terakhir tahun 2009, lupa jubahnya yang putih-putih hitam, Ba'asyir," kata Gofur kepada wartawan, di Hotel Zamrud, Jl Wahidin, Cirebon, Minggu (27/4/2011).
Gofur menceritakan, sejak kecil, Sarip dikenal jago elektronik. Namun ia curiga setelah Sarip bergabung dengan jamaah Ba'asyir, banyak hal yang aneh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di tahun 2009-2010 cuma sebentar mungkin ada sindikatnya dari teman-teman Ba'asyir bisa merakit sendiri," imbuhnya.
Gofur menduga, bom rakitan yang meledak di tubuh Sarip adalah bikinan sendiri putranya. Namun ia tidak mengetahui dari mana Sarip mendapatkan uang.
"Saya sampai sakit perut, ngga nyangka," terangnya
Dalam kesehariannya, kata Gofur, putranya dikenal temperamental. Sarip tak segan-segan menegur warga yang dianggap salah."Di kampung kalau orang minum-minum (miras), berani tantang. Walau orang itu ada lima orang, berani melawan. Saat demo, mobil diloncatin," tandasnya.
(ape/ape)











































