Demikian kata pengamat politik dari Charta Politica, Yunarto Wijaya, menanggapi keputusan PKS menyetujui draf kontrak baru koalis. Tanggapan disampaikan melalui surat elektronik, Minggu (17/4/2011),
"Jelas terlihat bahwa peran antagonis yang dimainkan PKS kemarin sebagai 'anak nakal' yang kritis, hanyalah peran dalam konteks kebutuhan pencitraan di hadapan konstituen," kata Yunarto.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya PKS sepertinya memang belum bisa lepas dari payung kekuasaan, termasuk melepaskan 4 orang kadernya di kabinet," sambung dia.
Dia menjelaskan, pilihan sebuah partai politik menjadi bagian kekuasaan pemerintahan erat kaitannya dengan akses yang bisa diperoleh dalam proses pemburuan pencitraan dan rente.Β Melalui otoritas pembuatan kebijakan, variable rente dan citra adalah amunisi yang akan berguna untuk kepentingan elektoral pemilu mendatang.Β
"Sepertinya logika inilah yang masih mendominasi pemikiran sebagian elite PKS pengambil keputusan," analisa Toto.
(lh/anw)










































