"Kemungkinan ini akibat adanya provokasi isu yang tidak benar," ujar Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) IV Diponegoro, Letkol Zaenal M saat dihubungi detikcom, Minggu (17/4/2011).
Menurutnya saat itu dirinya sedang berada di lapangan latihan tembak di kawasan Ambal, Kebumen. Namun warga desa Setro Jenar mendapat informasi bila lahan sengketa di perbatasan desa Setro Jenar juga dijadikan tempat latihan menambak, padahal latihan berada di Ambal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Zaenal, sejak Senin (11/4/2011) warga desa Setro Jenar sudah protes bila lahan sengketa di desa mereka dijadikan tempat latihan tembak. Namun karena protes tersebut latihan tembak dipindahkan ke Ambal dan juga ke Lumajang, Jawa Timur.
"Kita tidak pernah latihan menembak di sana, tapi sepertinya ada yang meniupkan informasi salah kepada warga. Warga kemudian mengamuk," terangnya.
Zaenal juga mengakui bila lahan yang saat ini digunakan Dislitbang TNI AD tersebut masih menjadi sengketa. Sejak jaman Belanda, lahan tersebut sudah menjadi milik TNI, bahkan menurutnya sejak tahun 1949 lahan tersebut sudah dijadikan tempat latihan menembak.
"Tetapi karena yang namanya latihan menembak itu jarang, kita perbolehkan warga menanam palawija dan tanaman lainnya di lahan itu. Tapi kemudian secara turun temurun, mereka menganggap lahan itu milik mereka," terangnya.
TNI AD sendiri akan melepaskan lahan tersebut, bila memang warga bisa membuktikan surat kepemilikan atas tanah tersebut. "Kalau memang betul, tunjukan surat-suratnya, kita terbuka kok," imbuhnya.
Bentrokan antara TNI AD dengan warga desa Setro Jenar terjadi kemarin siang. bentrokan ini disebabkan permasalahan lahan sengketa di batas desa. Akibat kejadian ini beberapa warga mengalami luka tembak.
(her/gah)











































