Hal itu disampaikan Konsul Jenderal RI di Dubai Mansyur Pangeran kepada detikcom, Sabtu (16/4/2011).
Kelima TKW bermasalah yang dipulangkan pada Jumat (15/4/2011) itu rinciannya menurut Sekretaris I Adiguna Wijaya adalah Mia Salsabila Binti Masuri Sarta, Waliyah Binti Sarwidi Rasiah, Suniroh Binti Darnika Nijah (Indramayu) dan Encas Casmah Binti Anda Karsa, Entin Supriatin Binti Sumarna Kun (Majalengka).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konjen menyayangkan masih saja terjadi praktik pemalsuan usia para TKW yang bekerja di luar negeri, khususnya di Dubai.
"Kami mengharapkan kiranya untuk masa mendatang mereka harus menolak jika ada pihak-pihak tertentu yang memaksa mereka untuk memalsukan usia dalam rangka mencari pekerjaan," ujar Konjen saat mtelepas kepulangan 5 TKW bermasalah kembali ke tanah air.
Masalah pemalsuan usia ini menjadi perhatian utama Konjen. Dalam kesempatan pemulangan TKW dari Indramayu dan Majalengka, 3 dari 5 TKW ternyata memiliki perbedaan usia lebih tua antara yang dicantumkan dalam paspor dengan usia sebenarnya, sesuai pengakuan mereka.
Kelima TKW tersebut sebelumnya telah berada di penampungan KJRI Dubai selama sekitar 1 hingga 6 bulan, sambil menunggu proses penyelesaian hukum dan administrasi permasalahannya dengan otoritas di Dubai, yakni pihak imigrasi, kepolisian, agen penyalur tenaga kerja setempat dan majikan.
Mereka sebelumnya kabur dari majikan dan meminta perlindungan ke KJRI Dubai karena beragam masalah, seperti majikan yang cerewet, ringan tangan, suka menjamah, beban kerja terlalu berat dan kurang waktu istirahat.
Ragam Masalah
Selain pemalsuan usia lebih muda dari usia sebenarnya, juga ditemukan dari berbagai kasus usia dalam paspor dicantumkan lebih tua dari usia sebenarnya.
Juga diketahui bahwa dari kelima TKW bermasalah yang dipulangkan ternyata ada yang tidak mendapatkan pelatihan ketrampilan oleh PJTKI di Indonesia sebelum diberangkatkan.
Beberapa dari mereka juga mengungkapkan bahwa ada PJTKI yang telah memberikan pelatihan ketrampilan, seperti memasak, merawat bayi, dan membersihkan rumah, namun pada saat ujian ketrampilan di akhir masa pelatihan, oknum petugas dapat disogok untuk meluluskan TKI bersangkutan.
Pelajaran
Konjen mengingatkan bahwa untuk bekerja ke luar negeri perlu persiapan diri yang matang, baik ketrampilan, bahasa asing maupun faktor mental psikologis untuk bekerja dan hidup dalam masyarakat yang berbeda latar belakang sosial budayanya.
Menurut Konjen, para TKW bermasalah yang berhasil dipulangkan agar dapat menjadikan pengalaman pahit permasalahan mereka bekerja di Dubai sebagai pertimbangan untuk berpikir ulang, jika mereka ingin kembali bekerja ke luar negeri di masa akan datang.
Walaupun sebelumnya sebagian dari mereka ada yang pernah bekerja tanpa masalah sebagai penatalaksana rumahtangga (PLRT) di Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Yordania, dan Taiwan, akan tetapi tidak ada jaminan bagi mereka akan selalu lancar bekerja tanpa masalah di negara lainnya.
Bekal
Konjen mengharapkan, kelima TKW bermasalah yang telah mendapat pendidikan tambahan di sekolah keterampilan hasil kerjasama KJRI Dubai dengan Dharma Wanita Persatuan (DWP) KJRI Dubai, dapat memanfaatkan tambahan pengetahuan sebagai penyemangat dan modal mereka di tanah air untuk melanjutkan belajar atau bekerja serta mengembangakan pengetahuan mereka tersebut.
Selama berada di penampungan KJRI Dubai mereka antara lain telah mengikuti kelas Bahasa Inggris, menjahit, membuat aksesoris, table manner dan merangkai bunga.
"Mereka harus berupaya untuk mencari penghidupan dan pekerjaan di tanah air saja dan tidak kembali bekerja sebagai PLRT ke luar negeri," tutur Konjen.
Lanjut Konjen, bukan mustahil mereka bisa meraih sukses, apabila mereka bersama teman atau saudara membuka usaha sendiri, mengembangkan ketrampilan seperti membuat aksesoris bernilai jual tinggi dengan modal yang relatif sedikit.
Kehilangan
Kelima TKW mengaku di satu sisi sangat senang dapat kembali ke tanah air, akan tetapi di sisi lain mereka merasa kehilangan dengan suasana kelas sekolah TKW yang telah diikuti selama berada di penampungan KJRI Dubai.
Bagi mereka, keberadaan sekolah tersebut sangat bermanfaat, baik untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan mereka, maupun untuk mengatasi stres atas masalah yang mereka alami.
(es/es)











































