"Pada kasus bom di Mapolresta Cirebon, belum tentu juga pelaku melakukan bunuh diri, bisa jadi dikendalikan melalui remote control oleh sang sutradara yang berada di lokasi kejadian," Ujar Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF), Mustofa B. Nahrawardaya, dalam siaran pers kepada detikcom, Sabtu (16/4/2011).
Menurut Mustofa, pelaku sengaja menggunakan bom dengan skala kecil. Sehingga ledakan yang terjadi tidak menghancurkan kepala pengantin bom bunuh diri tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sang sutradara, menurut Mustofa, mencoba memberikan jejak pelaku bom bunuh diri. Kejadian serupa, menurut Mustofa juga terjadi di ledakan bom Jimbaran dan bom Marriot 2.
"Jika memang ingin bunuh diri maupun berniat membunuh banyak korban, mestinya pelaku menggunakan bom besar yang sekaligus bisa menghancurkan tubuh dan kepalanya, agar tidak meninggalkan jejak. Namun, dengan meninggalkan kepala, diduga ada aktor lain yang mengendalikannya," duganya.
(van/ndr)











































