Pengungsi Merapi KLB Diare Bukan Keracunan Telur Asin

Pengungsi Merapi KLB Diare Bukan Keracunan Telur Asin

- detikNews
Jumat, 15 Apr 2011 18:47 WIB
Magelang - Dinas Kesehatan Provinsi Jateng menyatakan pengungsi banjir lahar dingin Merapi di pengungsian Dusun Ngemplak, Kecamatan Mungkid, Magelang bukan keracunan telur asin, tetapi diare. 67 Orang kini terjangkit diare dan dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

13 pengungsi dirawat di RSUD Muntilan, Magelang, termasuk 2 orang di ICU RSUD Muntilan. Mereka adalah Dendy Setyanugroho (2) dan Isnaeni Fitriani (21), warga Dusun Ngemplak, Ngrajek yang rumahnya di bantaran Kali Pabelan, Magelang.

Menurut Kadis Kesehatan Prov Jateng Mardiyatmo, pada Kamis (14/4) ada 54 pasien diare. 9 Orang dirawat di RSUD Muntilan, 18 orang dirawat di SD Negeri Ngrajek, dan 27 orang sudah sembuh dan pulang ke shelter box.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hari kedua, Jumat, sebanyak 13 orang terserang lagi dan dirawat di rumah sakit. Pendapat saya memang ini KLB harus diingat KLB Diare gastro interitis," tegas Mardiyatmo kepada wartawan di RSUD Muntilan, Jumat (15/4/2011).

Dari hasil diagnosa, para pengungsi yang diduga keracunan ini ternyata menderita diare akut. Gejalanya pasien menderita panas dan sakit kepala, mencret 15-20 kali. Setelah dirawat, kondisi mereka mulai membaik.

"Sama sekali bukan keracunan. Kalau ada yang mengatakan dikasih makan telur asin dua hari lalu masa inkubasi bakterinya kan sudah habis. Kalau keracunan hanya beberapa jam tapi ini tidak," jelas Mardiyatmo.Β 

Selain dari hasil diagnosa, Mardiyatmo juga menyatakan kondisi shelter box atau tenda pengungsian yang ditempati ratusan pengungsi sudah tidak layak untuk dihuni. Ini dilihat dari sisi kebersihan dan kesehatan shelter box serta fasilitas pengungsian.

"Memang penampungan sementara tidak boleh dihuni terlalu lama. Tidak bersih. Shelter box bersih hanya bisa dugunakan beberapa minggu saja. Tapi kenyataanya digunakan beberapa bulan," tutur Mardiyatmo.Β 

Kontak dengan bakteri, lanjut dia, bisa terjadi dimana saja. Terlebih lagi jika di pengungsian sanitasi udaranya terganggu.

"Kontak bakteri kan bisa dimana-mana. Bisa melalui air, makanan, udara sanitasi MCK yang kurang baik, kena jamur dan lainya," tukas Mardiyatmo.

(fay/fay)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads