"Itu di luar kebiasaan. Sudah ada pergeseran konsep. Pelakunya pasti sudah berbeda karena yang kami tangani tidak ada yang menyasar masjid," kata Koordinator TPM Mahendradatta dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (14/4/2011).
Aksi teroris selama ini mirip dengan pola bom Bali I, kelompok ini menghindari tempat ibadah Islam, menghindari jatuhnya korban dari muslim dan menghindari korban dari wanita dan anak-anak."Jangankan masjid, yang jelas-jelas satu agama, bahkan wanita dan anak-anak pun dihindari," tegas Mahendra.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berarti ini ada kelompok baru dengan ideologi baru. Nggak ada kaitannya dengan jaringan lama yang kami tangani karena sangat beda konsepnya," tegas Mahendra.
Bila kemudian bom ini dikaitkan dengan jaringan terorisme lama, menurut Mahendra, harus ada penjelasan terlebih dulu mengenai perubahan konsep aksi pengeboman. "Tidak ada kaitan dengan jaringan yang lama, ideologinya beda sekali," kata pria kelahiran Jakarta 11 Januari 1962 itu.
Mahendra mengungkapkan, TPM akhir-akhir ini tidak lagi menangani tersangka atau terdakwa kasus terorisme yang baru. Para tersangka itu termasuk yang memberikan kesaksian memberatkan Abu Bakar Ba'asyir ditangani oleh pengacara yang disediakan oleh Mabes Polri.Beberapa tersangka ini kemudian mencabut kesaksian BAP dan baru meminta pendampingan TPM.
"Setelah gembong-gembongnya tewas, katanya habis, kok ada lagi. Kok muncul lagi muncul lagi apalagi dengan ideologi yang berbeda. Ini kita pertanyakan," kata sarjana hukum lulusan UI tersebut.
(iy/nrl)










































