Komisi I DPR terlebih dulu menggelar komunikasi dengan Kongres AS menyangkut perizinan hibah pesawat tempur F16 edisi kuno milik AS untuk Indonesia. DPR ingin mendapat kepastian pesawat yang sudah berusia lebih dari 20 tahun ini dalam kondisi prima.
"Kita juga akan membahas kerjasama militer yang lebih baik dengan AS. Kita ingin AS menginvestasikan untuk industri pertahanan Indonesia," ujar Wakil Ketua Komisi I DPR, Hayono Isman, kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (15/4/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita juga bertemu dengan Kongres, Pentagon, juga berbicara dengan Menlu dan Menhan Amerika. Kita juga bertemu dengan perwakilan industri militer Amerika. Kita ingin bertemu dengan dinas intelijen Amerika,' tutur Hayono.
DPR berkeinginan kelak Indonesia memiliki industri pertahanan yang handal. Sehingga bisa menyuplai peralatan tempur ke Malaysia.
"Kita ingin masukan dari Pentagon terkait revitalisasi industri pertahanan Indonesia. Kita ingin bisa memasok peralatan pertahanan untuk negara tetangga seperti Timor Leste, Papua Nugini, Vietnam, bahkan Malaysia," terang Hayono.
Selain itu, Hayono juga hendak mengunjungi profesional muda Indonesia di Amerika Serikat. Profesional muda kebanyakan tinggal di San Fransisco.
"Kita bertemu komjen dan profesional muda Indonesia di San Fransisco. Kemudian ke Washington bertemu dengan Kedubes dan masyarakat Indonesia di sana," papar Hayono.
Komisi I juga hendak meyakinkan kongres Amerika seputar posisi Papua. Mengingat sejumlah anggota kongres AS maih berpihak kepada gerakan Papua merdeka.
"Kita juga ingin mendapat masukan terkait RUU intelijen. Kita di Komisi I sepakat untuk memperkuat demokrasi dengan penegakan hukum bukan sebaliknya. Intelijen sebagai alat bangsa di bidang intelijen untuk mengawasi demokrasi dan penegakan HAM," jelasnya.
(van/gun)











































