"Dengan UN yang tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, maka Komnas Anak dan PGRI mengantisipasi bahwa akan ada anak-anak yang menjadi korban karena tidak lulus UN akibat bobot nilai kelulusan UN yang masih dominal," kata Ketua Komnas Anak, Arist Merdeka Sirait, dalam rilis kepada detikcom, Jumat (15/4/2011).
Menurut Arist, bobot nilai yang lebih dominan menentukan kelulusan siswa mencerminkan UN tahun ini tidak berbeda dengan UN sebelumnya. UN 2011 yang dikatakan oleh Mendiknas merupakan formula baru, kenyataannya tidak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kegiatan tersebut hanyalah salah satu gambaran yang membuktikan sekolah dan para siswa khawatir menghadapi UN yang standar kelulusannya 5,50. Harus ada standar kelulusan yang adil. Jika sekolah dengan standar 5,50, maka yang berstandar nasional harus lebih tinggi," ucapnya.
Sesuai dengan UU Sisdiknas pasal 58, UN adalah bentuk evaluasi pemeriksaan hasil belajar. Tujuan utamanya adalah untuk menyempurnakan penguasaan pengetahuan atau keterampilan tertentu oleh murid. pemerintah diminta tidak mencampuradukkan UN sebagai bagian proses belajar dengan ujian yang bertujuan pemetaan mutu pendidikan.
"Ujian Nasional itu tidak memacu semangat belajar, karena murid tahu ada jalan pintas untuk lulus. UN telah menjadi hidden curriculum, pendidikan mentap korup (corruption minded). Praktik kecurangan bersama guru dan murid di sekolah secara implisit menanamkan karakter buruk kepada anak-anak," kata Ketua Departemen Litbang PGRI, Abduhzen.
UN untuk SMA dan sederajat akan digelar Senin 18 April 2011.
(irw/nrl)











































