Febri Kurnia (45), yang ikut keracunan menyatakan bungkusan nasi yang berlauk telur itu didistribusikan oleh aparat desa dan relawan banjir lahar dingin Merapi Rabu (13/4), kemarin.
"Sebetulnya saat saya makan sore harinya kemarin setelah salat ashar tidak kenapa-kenapa. Tetapi, saya curiga karena anak saya yang saya suapi bilang, 'Mak, telurnya bau sepertinya sudah kadaluarsa,'" ungkap Kurnia saat ditemui detikcom di SD Negeri Ngrajek.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau saya yakin iya karena saya senang makan telur asin. Puluhan teman-teman pengungsi dari shelter box langsung dibawa ke poliklinik desa karena jumlahnya terlalu banyak dan poliklinik desa tidak muat ditampung disini," ungkap Kurnia.
Hermanu Kusumo, dokter Puskesmas Kecamatan Mungkid, mengaku begitu mendapatkan laporan, puskesmas langsung menurunkan sebanyak lima perawat untuk menangani kasus keracunan ini.
"Kami tidak belum berani menyimpulkan apakah ini keracunan atau bukan. Yang pasti gejala yang timbul ada hal yang ganjil dari makanan berupa telur yang sedang diperiksa di RSUD Muntilan, Magelang untuk memastikan apakah itu keracunan atau bukan," ungkap Hermanu.
Hermanu menjelaskan, dari gejala yang terjadi berupa mual-mual, muntah, diare dan enggan makan-makanan itu menunjukkan bahwa makanan yang dikonsumsi mengandung zat yang mengganggu pencernaan.
Sampai berita ini diturunkan, sebanyak 5 orang dari 40 orang pengungsi yang keracunan dilarikan ke RSUD Muntilan. 3 Dari lima pengungsi itu bernama Edi Saputra (15), Aspira (56) dan Tolib (17). Dari 40 pengungsi yang menjadi korban keracunan itu satu di antaranya seorang balita berumur dua tahun dan wanita hamil.
Selain dilarikan ke RSUD Muntilan sebagian pengungsi yang mengalami keracunan juga dirujuk ke Puskesmas Inap di Kecamatan Borobudur.
Sampai saat ini, aparat desa dan petugas Polres Magelang masih melakukan upaya penyelidikan dan mencari tahu apakah keracunan yang dialami pengungsi ini dari unsur kesengajaan atau bukan.
(irw/irw)











































