"Dia tidak terlalu terbuka terhadap orang dan sangat seleksi dalam memilih teman," kata Nurcahyo saat dihubungi wartawan, Kamis (14/4/2011).
Kepribadiannya yang tertutup itu, kadang membuatnya merasa tidak berarti. Sehingga, Icha merancang kehidupannya seolah-olah sebagai orang yang penting.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, untuk mendapat pengakuan itu, Icha juga membuat akun dalam situs jejaring sosial Facebook sebagai sosok seorang wanita.
Upaya perancangan itu, katanya, membentuk pribadinya yang manipulatif. Hal itu, katanya, dilakukan agar dia bisa menguasai apa yang menjadi obsesinya.
"Dia ingin menguasai Umar (suami Icha)," katanya.
Sisi feminitas dalam sosok Icha, memerlukan pengakuan dari figur seorang laki-laki. "Sehingga, ketika Icha berhasil menikahi Umar, Icha merasa lebih diakui," ujarnya.
Sementara itu, Nurcahyo mengatakan, Icha memiliki orientasi seksual kepada sesama jenis. Namun, orientasi seksual sesama jenis itu, belum memasuki tahap permanen.
"Belum permanen, makanya kalau tidak ketahuan akan jadi permanen. Dia masih tahap awal," katanya.
'Eskperimen' akan hubungan sesama jenisnya itu pun baru dilampiaskan terhadap Muhamad Umar, suaminya yang dinikahi setelah memalsukan identitas.
"Baru pertama dengan Umar, jadi dia belum ada sensasi, belum addict," tukasnya.
"Sepanjang belum ditingkatkan ke penyidikan, artinya alat buktinya belum cukup," tutup Sugeng.
(mei/irw)











































