Kritikan itu disampaikan Maryam al-Khawaja dari organisasi HAM Bahrain, Bahrain Center of Human Rights kepada Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton dalam pertemuan Forum Islam AS di Washington, AS.
Maryam menanyakan pada Hillary mengenai sikap diam Washington atas pergolakan di Bahrain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Negara-negara PGCC (Dewan Kerjasama Teluk Persia) telah menggunakan senjata-senjata tersebut terhadap warga sipil yang damai," cetus wanita itu.
Maryam juga mengungkapkan kekhawatirannya akan nasib anggota-anggota keluarganya yang hilang belum lama ini.
"Ayah saya dan dua ipar laki-laki serta paman saya telah menghilang. Kami tidak tahu di mana mereka dan itu sudah beberapa hari. Kami cemas akan hidup mereka... empat orang telah tewas dan jasad-jasad mereka memperlihatkan tanda-tanda penyiksaan," tutur Maryam.
"... dan saya pikir sangat perlu bagi pemerintah AS untuk membuat pernyataan keras mengenai apa yang terjadi di Bahrain karena itu merupakan sekutu-sekutu AS," tutur aktivis HAM Bahrain itu.
Warga Bahrain telah melakukan aksi demo sejak 14 Februari lalu. Mereka menuntut berakhirnya kekuasaan dinasti al-Khalifa di negeri itu yang telah berlangsung sangat lama. Pasukan pemerintah Bahrain telah melakukan kekerasan terhadap para demonstran dengan bantuan pasukan Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Kuwait. Banyak orang telah tewas dan hilang sejak pergolakan itu.
(ita/nrl)











































