Anak-anak di Desa Kracak, Kecamatan Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah, malah asyik bermain balap ulat bulu. Bagaimana anak-anak ini mengadu balap hewan kecil berbulu ini?
Pertama, ulat bulu yang diambil dari pohon, dimasukkan ke dalam plastik dengan beberapa lembar daun sebagai bahan makanan. Lantas, dibuatlah tempat balapan dari beberapa kertas karton yang masing-masing lembar dilipat kedua sisinya menjadi semacam jalur lurus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Misalnya saja Made Indonesiana (8), Irfan (8), Teguh (8) dan Agus (9). Bocah-bocah kelas 3 SD ini memegang ulat bulu tanpa takut gatal. Dengan sorak gembira mereka mendukung ulat bulu jagoannya agar berjalan lebih cepat dari ulat bulu lainnya.
"Tidak takut, karena bentuknya lucu dan jika berlari menggelikan," kata Made Indonesiana dengan polosnya saat ditanya oleh wartawan.
Biasanya keempat bocah tersebut mencari ulat bulu ketika sepulang sekolah. Selanjutnya mereka berkumpul di salah satu halaman rumah untuk mengadu ulat bulu hasil tangkapannya tersebut.
Tidak ada rasa kecewa atau pun sedih bagi bocah-bocah ini ketika salah satu ulat bulu milik mereka kalah atau malah mati. Yang ada, hanyalah rasa senang dan gembira.
"Kalau sudah kalah ya cari lagi saja. Kan banyak di pohon," kata Irfan saat memberi dukungan kepada ulat bulu miliknya.
(fay/nrl)











































