Selamat Jalan Mutahar, Karyamu Selalu Bersama Kami
Kamis, 10 Jun 2004 08:03 WIB
Jakarta - Husein (Hs) Mutahar (87), pencipta lagu Syukur, telah berpulang ke haribaan Ilahi pada Rabu (9/6/2004) pukul 16.30 WIB kemarin. Siang nanti jenazah pencipta lagu-lagu perjuangan ini akan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut, Jakarta Selatan.Almarhum saat ini disemayamkan di rumah duka di Jalan Damai Raya No. 20 Cipete Utara, Jaksel. Ini adalah rumah Sanyoto Haryanto, anak angkat pertama Mutahar. Di rumah ini pulalah penerima tanda penghargaan Bintang Mahaputra ini menghembuskan nafas terakhirnya.Pencipta lagu kelahiran Semarang 5 Agustus 1916 itu hingga wafatnya memang tetap melajang. Almarhum yang juga pernah aktif di dunia kepramukaan itu memiliki delapan anak angkat.Menurut Hirin Wagiran (42), salah satu anak angkat Mutahar, almarhum meninggal akibat sakit yang dideritanya sebulan belakangan ini. "Puncaknya pada dua hari ini, di mana Pak Mutahar tidak bisa menelan makanan," tuturnya ketika dihubungi detikcom melalui telepon, Kamis (10/6/2004) pagi.Ketika ditanya apakah ada pesan-pesan yang disampaikan almarhum sebelumnya, Hirin menjelaskan almarhum pernah berpesan minta dimakamkan sebagai rakyat biasa yang beragama Islam. "Bapak pernah berpesan, minta dimakamkan sebagai muslim di tempat pemakaman umum. Padahal bapak berhak dimakamkan di (Taman Makan Pahlawan) Kalibata sebagai pemerima Bintang Mahaputra," tutur Hirin.Pagi ini, menurut Hirin, pelayat mulai berdatangan kembali. Tokoh dan mantan yang sudah melayat, yakni pada malam kemarin, adalan mantan Mensesneg Moediono dan mantan Hakim Agung Benyamin Mangkudilaga. Almarhum akan diberangkatkan ke pemakaman pukul 12.30 WIB.Karyanya AbadiPada masa pemerintahan Soekarno Mutahar pernah menjadi Kepala Protokol di Istana Merdeka. Almarhum dikenal dikenal dekat dengan Bung Karno. Almarhum juga pernah menjabat sebagai Duta Besar RI di Vatikan.Sebagai pencipta lagu, karya-karya Mutahar bersifat abadi. Hingga kini lagu Syukur masih dinyanyikan pada pada acara-acara khusus yang memerlukan suasana hikmat. Mulai dari upacara 17-an sampai malam inagurasi, lagu tersebut selalu menjadi lagu wajib yang harus dinyanyikan.Lagu Hari Merdeka juga tak kalah legendarisnya. Bersama lagu Syukur menjadi lagu wajib untuk tiap aubade yang dilangsungkan di Istana Merdeka. Lagu terbarunya, Dirgahayu Indonesiaku, juga kerap dinyanyikan pada acara-acara resmi.Mutahar telah berpulang, tapi karyanya terus bersama bangsanya.dari yakinku teguhhati ikhlasku penuhakan karuniamutanah air pusakaindonesia tercintasyukur aku sembahkanke hadiratmu tuhan
(gtp/)











































