Sadra adalah salah satu dari komponis berpengaruh di Indonesia saat ini. Di sela-sela kesibukannya mengajar di ISI Surakarta, Sadra sering berkeliling ke banyak negara untuk mementaskan karya-karyanya.
Lahir di Banjar Kaliungu, Kaja, Denpasar, Bali, pada 1 Agustus 1954, Sadra kecil sudah saat akrab dengan dunia kesenian. Kelebihannya bermusik sudah nampak di usia belia, ketika tiba-tiba dia mampu bermain gamelan Bali dengan lihai hanya dari melihat dalam waktu singkat dari cara para penabuh memainkan gamelan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lulus SMKI tahun 1972, Sadra meneruskan pendidikannya di Jurusan Seni Rupa LPKJ (sekarang IKJ) Jakarta. Namun Sadra tidak menamatkan pendidikan seni rupanya. Dia lebih banyak aktif membuat karya-karya musik dan melatih musik di berbagai tempat, hingga akhirnya dia 'nyangkut' sebagai dosen di ASKI (sekarang ISI) Surakarta.
Proses Sadra 'nyangkut' di Solo dilalui dengan proses yang unik. Menurut cerita Sadra kepada detikcom semasa hidupnya beberapa waktu silam, proses itu diawali ketika dia tampil sebagai salah satu pengisi acara Pekan Komponis Muda UU di TIM Jakarta pada tahun 1981.
Saat itu hadir Gendhon Humardani, direktur ASKI Surakarta yang sekaligus menjabat Kepala PKJT (sekarang Taman Budaya Surakarta/TBS). Usai acara Gendhon mengkritik tajam karya-karya yang disuguhkan oleh Sadra. Bahkan saat itu Sadra merasa kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Gendhon.
"Anehnya, sesuai acara Pak Gendhon justru mendekati saya dan menawarkan kepada saya untuk bersedia tinggal di Solo menjadi dosen di ASKI. Seketika itu saya menolak karena masih marah. Namun beliau terus mengirim utusan untuk membujuk saya. Setahun kemudian saya baru bersedia dan berangkat ke Solo," kenang Sadra saat itu.
Sadra kemudian menjadi dosen di Jurusan Karawitan ASKI Surakarta dan SK pengangkatannya sebagai PNS telah disiapkan. Namun Oleh Gendhon, Sadra tetap diharuskan menempuh kuliah juga di jurusan tersebut. Bukan dari semester awal, tetapi langsung dari semester II. Padahal di waktu yang sama dia juga ditugasi mengajar mahasiswa semester akhir.
Selanjutnya Sadra mampu meraih gelar sarjana dan juga gelar master dari kampus yang sama. Dia juga banyak membimbing dan mendidik komponis-komponis muda di Solo dan sekitarnya dengan diajak berkarya bersama. Dia dan sejumlah seniman muda di Solo membentuk Sono Seni Ensemble yang banyak menelurkan karya-karya fenomenal.
"Pak Sadra tidak hanya mendorong anak-anak muda berkarya di panggung kesenian, tetapi juga memotivasi anak-anak muda menulis artikel, kritik musik seperti yang sering dilakukannya," ujar Danis Sugiyanto, dosen muda ISI Surakarta.
Dalam pergaulannya, Sadra tidak pernah merasa lebih senior atau lebih mumpuni. Dia bisa berkumpul dan bercanda sembari memotivasi dengan anak-anak yang baru belajar kesenian, namun dia juga mampu dengan lantang bicara tentang macetnya proses kesenian di hadapan para seniman senior.
Selain sejumlah penghargaan lokal dari dalam negeri, pada tahun 1991 Sadra juga meraih penghargaan New Horizon Award dari International Society for Art Science and Technology, Berkeley, California, AS.
Dari sejumlah karyanya, 'Gatra Swara' yang diciptakanya pada tahun 1994 adalah salah satu karya yang pantas mendapat apresiasi khusus. Meskipun karya tersebut merupakan garapan komposisi musik yang menitikberatkan pada pendengaran, namun Sadra menampilkan karya yang mampu menyatukan kebutuhan indrawi dalam satu panggung pementasan.
"Karya tersebut merupakan bagian dari pemahaman saya tentang musik ritual Hindu Bali yang tidak hanya untuk didengar saja, tetapi juga dilihat dan bahkan juga dinikmati oleh indra penciuman. Baru belakangan ini saya tahu tentang konsep multi media atau instalasi, yang secara konseptual hampir sama," ujarnya kala itu.
Dalam beberapa tahun terakhir, Sadra memang bergelut dengan penyakit jantung yang mulai mengganggu aktivitasnya. Hingga meninggalnya, Sadra setidaknya pernah dirawat sebanyak empat kali karena penyakit itu.
Semangat dia untuk terus berkarya dan mendidik anak-anak muda selalu menjadi obat manjur bagi penyakitnya itu. Namun demikian toh akhirnya dia harus menyerah dengan keadaan pada Kamis (14/4/2011) pukul 00.05 WIB setelah dirawat selama dua hari di RS Dr Moewardi, Solo.
Sadra pergi meninggalkan istri, tiga anak, ratusan murid dan mahasiswa, serta para cantriknya di dunia kesenian. Sadra juga meninggalkan tak kurang dari sepuluh karya komposisi yang amat berharga. Setahun menjelang wafatnya, dalam aneka perbincangan, Sadra memang kerap memperbincangkan kematian.
"Kehidupan ini teramat indah, apalagi jika punya komitmen padanya. Saya kagum dengan kematian ala Pugra. Bukan kematian di atas panggung itu, tapi dia berkomitmen pada diri sendiri dan kesenian yang digeluti hingga kematian itu menjemput," kata Sadra sekitar delapan bulan lalu, ketika bertemu detikcom.
Dia memang sangat mengagumi I Nyoman Pugra, seniman petani buta huruf asal Banjar Sima, Desa Kesiman, Bali. Sepanjang hidupnya Pugra mengabdikan dirinya untuk kesenian. Hingga akhirnya dia meninggal di atas panggung saat tampil menari di Sasonomulyo, Solo.
Saat ini jenazah Sadra telah disemayamkankan di rumah duka Perum Subur Makmur, Ngringo, Karanganyar. Sebagai seorang Hindu, jenazahnya akan dikremasi pada Jumat siang besok di Krematorium Delingan, Karanganyar. Jenazah akan diberangkatkan dari rumah duka pukul 14.00 WIB untuk diperabukan. Abu jenazah selanjutnya akan dilarung (dihanyutkan) di aliran Bengawan Solo.
(mbr/fay)











































