Siswono: Perlu Political Will untuk Perbaiki Nasib Petani

Siswono: Perlu Political Will untuk Perbaiki Nasib Petani

- detikNews
Rabu, 09 Jun 2004 21:00 WIB
Ogan Ilir - Nasib kaum petani di Indonesia sangat memprihatinkan. Penyebabnya karena harga pupuk di tingkat petani mahal sementara harga jual gabah sangat rendah. Diperlukan keinginan politik (political will) dari pemerintah untuk memperbaiki nasib petani tersebut. Demikian disampaikan Siswono Yudho Husodo, kepada pers di Pondok Pesantren Ittifaiyah, Inderalaya, Ogan Ilir (OI), Sumsel, Rabu (9/6/2004). Sebelumnya cawapres dari Amien Rais ini bertemu dan berdialog dengan sejumlah petani dan nelayan lebak di Dusun Lubung Jangkar, Kecamatan Pemulutan, OI. "Bagaimana nasib petani tidak sengsara, jika harga pupuk tinggi sementara harga gabah rendah, seperti yang dialami saudara kita di Dusun Lubung Jangkar," kata Siswono. Saat berdialog itu para petani mengabarkan kepada Siswono bahwa harga pupuk urea yang mereka terima seharga Rp2.000 per kilogram, sementara harga jual gabah kering sebesar Rp 800 per kilogram. "Ini kan tidak benar. Apalagi di Sumsel ini kan ada PT Pupuk Sriwijaya," tambahnya. Menurut Siswono seharusnya harga pupuk di tangan petani sebesar Rp 1.050 per kilogram sementara harga jual gabah sebesar Rp 1.075 per kilogram. Menurut Siswono penyebab tingginya harga pupuk disebabkan besarnya korupsi di tingkat pemasaran. Sekitar 2 juta ton dari 4,6 juta ton pupuk urea yang diproduksi pabrik pupuk di Indonesia seperti PT Pusri dan Kijang setiap tahunnya beredar di luar negeri, seperti di Thailand dan Malaysia. Sebagian di antaranya karena diselundupkan.Sementara, meski pemerintah sejak 20 Januari 2004 melarang import beras, tapi dari data yang didapatkannya sekitar 1,5 juta beras import beredat di dalam negeri. "Jadi kalau ingin merubah itu semua dan membuat nasib petani membaik harus ada kemauan politik dari pemerintah ke depan," katanya. Siswono pun menjanjikan, jika dirinya bersama Amien Rais terpilih sebagai pemimpin nasional ke depan, dirinya akan mengambil kebijakan dengan melarang eksport pupuk dan melarang import pupuk. Selanjutnya, khusus untuk meningkatkan produksi gabah dari petani lebak, Siswono mengaku dirinya dan Amien Rais tengah merencanakan dilakukannya pengembangan pertanian di lahan lebak. Sebab menurutnya dari 12,5 juta hektare lahan lebak di Indonesia, baru 2,5 juta hektare yang dimanfaatkan untuk pertanian. Lalu, dari 53 juta ton gabah yang dihasilkan para petani di Indonesia hanya sekitar 4 juta ton gabah yang dihasilkan petani lebak. (gtp/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads