Serangan Ulat Bulu Mengingatkan Wabah Kutu Loncat Pada 80-an

Serangan Ulat Bulu Mengingatkan Wabah Kutu Loncat Pada 80-an

- detikNews
Rabu, 13 Apr 2011 12:32 WIB
Serangan Ulat Bulu Mengingatkan Wabah Kutu Loncat Pada 80-an
Jakarta - Ulat bulu yang ditemukan dalam jumlah besar di beberapa daerah membuat masyarakat resah. Peristiwa ini mengingatkan pada merebaknya kutu loncat pada tahun 1980-an.

"Pada sekitar tahun '86 ada kasus kutu loncat dan itu ada di semua daerah di Indonesia. Ini muncul karena dulu ada penanaman lamtoro gung (petai cina ukuran besar). Kutu loncat ini merupakan hama lamtoro gung," ujar peneliti Serangga Bidang Parasit LIPI Dr Rosichon Ubaidillah dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (13/4/2011).

Sekadar diketahui, saat memerintah kala itu Presiden Soeharto gencar mempromosikan penamanan lamtoro gung untuk penghijauan. Saat lamtoro tertanam di banyak tempat, muncullah wabah hama kutu loncat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kala kutu loncat muncul dalam jumlah banyak, pemerintah mengirimkan tim ke Hawaii untuk mendatangkan kumbang lembing sebagai predator atau musuh alam kutu loncat.

"Sebenarnya ini akan terkendali sendiri karena ada beberapa musuh alamnya. Sama seperti ulat bulu ini juga memiliki banyak predator, tidak hanya burung pemakan ulat saja," tambah Rosichon.

Dia menjelaskan, jenis burung yang memakan ulat antara lain burung kutilang. Sedangkan burung pipit bukan merupakan predator ulat bulu karena pemakan biji-bijian. Selain itu, ada parasit yang menjadi musuh alam dari ulat bulu.

"Parasit ini ada di larva, ada juga parasit pupa. Sekarang banyak burung predator ditangkap dan penggunaan insektisida yang tidak ramah lingkungan berlebihan bisa membuat parasit ikut mati," sambung Rosichon.

Menurutnya, predator bagi kupu-kupu malam atau ngengat yang merupakan 'ibu' bagi ulat adalah kelelawar. Sayangnya kelelawar pemakan ngengat juga sudah banyak yang hilang.

Fenomena keberadaan ulat bulu sebenarnya bukan sesuatu yang baru, karena ada perubahan ekosistem mendasar. Kupu dan ulat di hutan dikendalikan secara alamiah oleh predator, parasit danΒ  patogen atau agen biologis yang menyebabkan penyakit pada inangnya. Dia menengarai, di telur maupun larva ada 2-3 jenis parasit.

"Ketika hutan dataran rendah diganti, lalu tanaman tidak heterogen lagi ya akibatnya ulat bulu yang kelak jadi ngengat jadi banyak, karena makannya memang itu," tambahnya.

Ulat masuk ke dalam rumah penduduk, umumnya saat menjelang fase kepompong. Rumah dianggapnya teduh dan aman sehingga dirasa aman oleh ulat untuk berubah menjadi kepompong sebelum bermetamorfosa menjadi kupu-kupu malam.

"Ulat masuk ke rumah bukan akan menyerang manusia tapi mencari tempat yang aman baginya," ucap Rosichon.

Dia menuturkan, beberapa waktu lalu, Research Center For Biology, Cibinong Science Center (CSC) menanam pohon gaharu. Penanaman ini sifatnya monokultur alias hanya tanaman sejenis. Lalu tanaman ini diserang ulat hingga pohon gaharu itu meranggas alias daunnya habis.

"Homogenitas tanaman menyebabkan tidak ada pembatas bagi ulat itu. Kalau tanaman yang homogen itu adalah host plant (inang) bagi ulat maka semua akan habis dimakan dan ulatnya juga sangat banyak," terang Rosichon.

Ulat bulu menjadi masalah di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur serta Bali. Bahkan warga di Tanjung Duren, Jakarta Barat, juga resah akibat ulat bulu yang bulunya membuat gatal itu.

(vit/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads