"Harusnya aparat keamanan, misalnya militer, Kopasus, kemudian yang lain-lain, daripada sibuk di dalam, ya mending yang seperti itu yang harus ditangani," ujar Direktur Eksekutif Imparsial, Poengky Indarti kepada wartawan di Kejagung, Jl Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, Selasa (12/4/2011).
Dikatakan Poengky, seharusnya aparat militer Indonesia bertindak cepat dalam menanggulangi teror yang dilakukan para perompak Somalia terhadap para pelaut RI yang ada di kapal tersebut.
"Mereka bisa bekerjasama dengan aparat di Somalia. Jadi bersama-sama," tuturnya.
Sementara itu terkait permintaan uang tebusan sebesar US$ 3 juta yang diminta para perompak tersebut, menurut Poengky, pemerintah tidak perlu mengabulkannya. Pemerintah harus memikirkan cara yang tepat untuk membebaskan 20 WNI yang ada di sana.
"Kayaknya jangan dikasih duit ya, artinya kalau dikasih duit berarti kita menyuburkan perompakan. Tapi tidak menuruti tuntutan perompak, melainkan kita harus smart bagaimana menangkap para perompak tanpa melukai pelaut kita," terang dia.
Salah satu cara membebaskan WNI yang ada di sana, menurut Poengky, bisa dilakukan dengan adanya kerjasama dengan negara lain. Seperti yang dilakukan militer Belanda yang bekerjasama dengan polisi Somalia untuk membebaskan kapal Iran yang ditahan pembajak di sana.
"Jadi bagaimana cara untuk negosiasi itu yang perlu diperhatikan. Jadi saya kira, kalau dengan negosiasi yang melibatkan negara-negara itu, saya kira kita bisa," ucap Poengky yakin.
Dikatakan Poengky, 20 WNI yang masih ditahan perompak Somalia tersebut menjadi tanggung jawab pemerintah untuk diselamatkan. Poengky menekankan perlunya kerjasama internasional dalam upaya pembebasan mereka.
"Kalau bagi saya, aparat anti teror yang strategis, kayak Kopassus, kemudian pasukan katak, dan sebagainya, mereka kan punya keahlian khusus. Ini kan sama ketika mereka menyikapi kalau ada pembajakan di udara, kan yang diturunkan mereka juga. Dan ini karena posisinya di luar negeri, jadi bukan porsi polisi, seharusnya militer yang harus maju," jelasnya.
"Kemudian dibarengi dengan diplomasi luar negeri bagaimana supaya bisa mendapatkan bantuan dari negara-negara kawan-kawan Indonesia (dalam upaya penyelamatan ini)," tandas Poengky.
Seperti diketahui, Kapal MV Sinar Kudus dibajak oleh perompak Somalia di perairan Laut Arab, saat melakukan perjalanan dari Pomalaa, Sulawesi Selatan menuju ke Roterdam, Belanda, tanggal 16 Maret 2011 lalu. Kapal yang diawaki oleh 31 ABK, 20 orang di antaranya Warga Negara Indonesia (WNI) tersebut bermuatan biji nikel dan seharusnya sudah sampai 34 hari setelah keberangkatan.
(nvc/ndr)











































