"Ya kita sebut itu kutu loncat, itu sudah halus dibandingkan disebut pengkhianat," kata Suryadharma di kantor presiden, Jakarta, Selasa (12/4/2011).
Sebagai partai politik, Suryadharma mengakui sulitnya PPP menolak keinginan kader untuk pindah. Hal ini pernah dialami beberapa walikota dan bupati yang pindah ke partai lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih jauh, menteri agama ini juga menilai sikap kutu loncat tak lebih dari seorang yang memanfaatkan partai sebagai kendaraan.
"Ketika sudah mencapai tujuannya kendaraan itu ditinggalkan, dia tidak memperdulikan, apa kendaraan itu rusak atau tidak terpakai lagi," jelasnya.
"Yang dibutuhkan itu kader-kader loyal, mempunyai komitmen tinggi dan punya kemauan membesarkan partai, itu yang kita harapkan. Jadi sekali lagi kita serahkan ke yang bersangkutan, kalau kita jaga baik-baik susah juga mau dibilang apa," lanjutnya.
Apa saja keuntungan kepala daerah itu pindah?
"Bagi partai tertentu itu, mereka merekrut kader itu untung sekali. Dia mendapatkan kader yg sudah jadi, tanpa melakukan kaderisasis. Tanpa biaya-biaya yang besar menjadikan dia sebagai tokoh, kader besar. Bisa jadi pindah itu di satu sisi keuntungan bagi partai yang ngambil, di sisi lain kerugian bagi partai yang ditinggalkan," paparnya.
Tren perpindahan partai kepala daerah terjadi akhir-akhir ini. Terakhir adalah wakil gubernur Jabar Dede Yusuf sekaligus politisi PAN yang pindah ke Partai Demokrat (PD).
(mad/gun)











































