Surat dua halaman itu berisi tiga poin. Di poin pertama, KBRI Watch mempertanyakan soal berbagai rencana kegiatan yang akan digelar oleh KBRI Washington. Salah satunya soal acara pemecahan rekor Guinnes Book dengan bermain 5 ribu angklung.
"Meski kami percaya penyelenggaraan acara itu bukan ide yang sia-sia, namun mengingat biaya yang harus dikeluarkan bagi pengadaan angklung dan sebagainya, apakah itu bukan merupakan pengeluaran yang terlalu besar, dan apakah KBRI mendapatkan bantuan (sponsor) dari pihak swasta?," begitu kutipan poin pertama surat KBRI Watch yang diteken koordinatornya, Irwan Rosyadi, Selasa (12/4/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami mendapatkan informasi mengenai kaburnya tiga orang staf rumah tangga di Wisma
Dubes RI di Tilden sekitar dua minggu lalu, bahkan salah seorang di antaranya merupakan chef senior yang sekaligus menjabat sebagai Kepala Biro Rumah Tangga. Demikian pula kami juga mendengar bahwa seorang staf rumah tangga lainnya (berarti merupakan staf RT ke-4) baru saja kabur dari Wisma Tilden hari ini. Suatu hal yang mengejutkan, karena selama ini kami belum pernah mendengar adanya staf rumah tangga melarikan diri dari Wisma Tilden," begitu bunyi poin kedua surat itu.
KBRI Watch ingin mendapatkan penjelasan apakah kaburnya ke-4 orang staf rumah tangga Wisma
Tilden tersebut terkait gaji yang di bawah standar. Atau apakah terkait sebab-sebab lainnya.
Sedangkan poin ketiga, KBRI Watch ingin mendapatkan penjelasan terkait pemakaian anggaran bagi gaji staf rumah tangga di Tilden. Sejauh yang diketahui, setiap Duta Besar hanya disediakan dua orang staf rumah tangga yang digaji dengan anggaran negara.
"Namun, kami mendapat informasi bahwa Bapak membawa 8 (delapan) orang staf RT dari Indonesia, sementara sudah ada 2-3 orang staf yang bekerja di Wisma Tilden. Dengan asumsi
hanya 2 (dua) orang staf yang digaji oleh negara, kami ingin memperoleh penjelasan mengenai penggajian bagi setidaknya 6 (enam) orang staf RT yang dibawa dari Indonesia lainnya, ditambah staf yang sudah lebih dahulu ada di Tilden. Karena menurut pandangan kami, bila mereka digaji dari uang pribadi, cukup besar jumlah gaji yang harus disediakan untuk seorang pejabat publik," tulis KBRi Watch.
Pada Senin kemarin, Dino membenarkan adanya staf rumah tangganya yang kabur dan tidak ada kabarnya. Dino merasa dikelabui. Dino justru menduga, kaburnya para pembantunya sudah direncanakan sebelumnya.
"Nampaknya mereka sudah merencanakannya cukup lama, mungkin sejak awal kedatangan bersama kami di Washington DC. Hal seperti ini bukan sesuatu yang baru di sini," kata Dino kepada detikcom, Senin (11/4/2011).
Dino juga berdoa agar para stafnya tersebut selamat dan tidak menjadi korban perdaganan manusia di Amerika Serikat (AS). "Saya berdoa agar mereka selamat. Tidak lengah hingga menjadi korban dari people trafficking yang memang menjadi masalah di AS," katanya.
(ken/nrl)











































