Yusron Ihza: Perompak Pantas Dihajar

Yusron Ihza: Perompak Pantas Dihajar

- detikNews
Selasa, 12 Apr 2011 09:58 WIB
Jakarta - Bayar atau hajar. Hanya dua opsi itu yang bisa diambil untuk menyelesaikan kasus perompakan seperti yang dialami kapal Sinar Kudus di Teluk Aden, Somalia. Desakan untuk menghajar perompak dengan kekuatan militer menguat.

"Untuk menghadapi perompak saya kira opsinya cuma dua, bayar atau hajar. Tapi menurut saya, perompak itu pantas untuk dihajar," ujar mantan anggota DPR dari Komisi I, Yusron Ihza Mahendra, dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (12/4/2011).

Alumnus jurusan Hubungan Internasional UI ini berpendapat, jalur diplomasi tidak ada gunanya dilakukan. Hal itu tidak akan efektif dilakukan lantaran Somalia tengah dilanda perang saudara. Diplomasi dinilainya tidak akan efektif karena Pemerintah Somalia posisinya antara ada dan tiada.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pemerintah Somalia sibuk dengan perang saudara. Kalau mau ambil cara diplomasi, diplomasi dengan negara yang porak poranda, tentu mereka tidak akan concern dengan masalah kita. Jadi mau diplomasi sama siapa?" imbuh pria yang juga Wakil Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) ini.

Beberapa kalangan mengusulkan agar pembebasan 20 ABK berkewarganegaraan Indonesia di kapal Sinar Kudus dilakukan melalui jalur keagamaan. Namun menurutnya hal itu tidak akan efektif. Sebab kapal yang dibajak berbendera Indonesia dan sebagian besar awaknya adalah orang Indonesia.

"Kalau di atas kapal asing ada beberapa warga negara kita, mungkin pendekatan jalur agama bisa. Tapi ini kan isinya semua orang Indonesia," sambung Yusron.

Dia yakin, kekuatan militer Indonesia sanggup menghajar para perompak di Somalia. Sebab Indonesia memiliki alat militer yang cukup canggih dan personel yang handal.

"Malaysia, Korea Selatan dan India bisa membebaskan kapal yang ditawan perompak dengan kekuatan pasukan mereka. Kenapa kita tidak bisa? Kita bisa belajar dan koordinasi dengan negara-negara itu, bagaimana membebaskan dan menyelamatkan awak kapal dari perompak Somalia itu," ucap pria yang masih disibukkan sengan aktivitas mengajar sebagai dosen tamu di beberapa universitas ini.

Kapal MV Sinar Kudus dibajak oleh perompak Somalia di perairan Laut Arab, saat melakukan perjalanan dari Pomalaa, Sulawesi Selatan menuju ke Roterdam, Belanda, tanggal 16 Maret 2011 lalu. Kapal yang diawaki oleh 31 ABK, 20 orang di antaranya Warga Negara Indonesia (WNI) tersebut bermuatan biji nikel dan seharusnya sudah sampai 34 hari setelah keberangkatan.

(vit/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads