"Satu ruangan disulap menjadi ruangan malam pengantin. Tidak gabung dengan blok. Bukan sel yang disulap. Hanya cukup satu malam. Nanti malam sampe besok pagi," kata Kalapas Kerobokan Siswanto kepada wartawan usai pesta pernikahan di LP, Senin (11/4/2011).
Siswanto menjelaskan, meskipun hubungan seksual narapidana dengan istri belum diatur secara hukum, namun ia memberikan izin malam pertama dengan pertimbangan kemanusiaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Siswato menjelaskan pihaknya hanya memberikan malam pertama di LP Kerobokan. Kedua mempelai tidak mendapatkan izin melanjutkan bulan madunya di luar LP.
"Tidak boleh keluar karena Martin narapidana seumur hidup," jelasnya.
Untuk hari-hari selanjutnya, Martin kembali ke rutinitas layaknya narapidana lainnya. Istrinya harus mengikuti jadwal untuk besuk ke LP. "Tidak ada perbedaan. Istri besuk harus ikut jadwal," tegas Siswanto.
Martin adalah narapidana asing pertama yang menikah di dalam LP. Sebelumnya, dua narapidana juga menggelar pesta pernikahan di tempat yang sama. Semua biaya pernikahan, baik menghias ruangan, resepsi dan pesta lainnya ditanggung sendiri oleh Martin.
"LP hanya fasilitasi izin, ruangan," kata Siswanto.
Meskipun hanya menikmati malam pertama di dalam LP, Kristin tetap bahagia. "Malam pertama di LP saja," ujarnya tertawa sambil menatap mata suaminya mesra.
(gds/nwk)










































