Eks anggota NII Al Chaidar menyebut, sebelum seseorang dicuci otaknya, KW9 NII akan mempelajari terlebih dahulu targetnya dengan baik. Misalnya saja, apa hobinya, buku apa yang biasanya dibaca, bagaimana kesehariannya, latar belakang keluarga dan sebagainya.
"Biasanya orang yang menjadi target adalah yang memiliki latar belakang eksakta, karena orangnya mudah dimasuki (penanaman ideologi). Misalnya dari fakultas teknik, MIPA, kesehatan, kedokteran," ujar Al Chaidar dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (11/4/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Chaidar membeberkan modus 'penculikan' untuk pencucian otak orang-orang seperti Lian. Biasanya bagian dari kelompok KW9 NII mengunjungi target melalui salah satu teman baiknya. Umumnya, target tidak pernah berasal dari kalangan aparat keamanan seperti tentara dan polisi.
"Jadi targetnya adalah kalangan masyarakat sipil yang dianggap kedisiplinan terhadap pertahanan dan keamanan nasional itu kurang. Kebanyakan targetnya adalah perempuan yang secara psikologis lebih lemah atau tidak stabil dibanding laki-laki," tutur Chaidar.
KW9 NII juga lebih suka mengambil target orang-orang berusia muda. Misalnya saja, mahasiswa, kalangan ABG, orang yang baru tamat kuliah. Namun tidak menutup kemungkinan untuk mengambil orang yang telah berkeluarga dan memiliki anak seperti Lian.
"Biasanya teman dekatnya itu mendatangi ke kos atau ke tempat kerja, lalu mengajak mengikuti pengajian yang terkadang dilakukan di tempat yang tidak lazim seperti cafe. Kemudian diajak ngobrol di tempat sepi," tuturnya.
Chaidar menambahkan, para target KW9 NII ini setelah diambil dari lingkungannya kemudian di-lawah yakni pemberian metode dakwah atau penyampaian ayat-ayat suci Al Qur'an untuk mengajak anggota baru. Setelah itu, ada tahap tazkiah yang merupakan pelepasan ideologi dan pembinaan menjadi warga KW9 NII. Lalu taklim di mana diberikan metode merekrut orang atau ditempatkan di struktur kepengurusan.
"Brainwashing tidak dilakukan di satu tempat khusus. Itu bisa dilakukan di rumah atau kos. Waktu yang diperlukan bisa beberapa hari, minggu, bulan, tergantung intensitas pertemuan," sambung dia.
Sebelumnya, Lian Febriani, PNS di Bagian Tata Usaha, Direktorat Bandar Udara, Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan hilang sejak Kamis (7/4) lalu. Sebelum hilang, Lian dan teman sekantornya sempat makan siang di kantin Kementerian Informasi dan Komunikasi.
Usai makan siang, Lian mengatakan kepada temannya ia akan menemui seseorang di Jl Tanah Abang, Jakarta Pusat. Namun hingga jam pulang kantor Lian tidak pernah kembali ke kantornya.
Sejak menghilang, Lian juga tidak pernah menghubungi keluarga maupun rekan sekantornya. Saat ditemukan, ada yang aneh dari kondisi psikologis ibu satu anak tersebut. Dia tak mengenal lagi keluarganya. Termasuk dirinya sendiri.
Penampilan Lian juga berubah. Dia menjadi memakai cadar dan membawa dua buku bertema jihad. Lian juga mengaku ingin berjihad. Dia ditemukan sendirian di Masjid At Ta'awwun, Puncak, Bogor pada Sabtu dan dijemput keluarga hari Minggu (10/4) subuh.
(vit/fay)










































