Menunggu Sunset, Deni Kehilangan Kekasih di Bromo
Rabu, 09 Jun 2004 04:50 WIB
Probolinggo - Keindahan Bromo telah tersohor bahkan sampai manca negara. Terpesona keindahan itulah, dua pasang kekasih, Eko Cahyono-Deni Kurniawati dan Eko Riawan dan Eka Riani mendatangi kawasan wisata Bromo. Tak dinyana di gunung itu, salah satu pasangan harus kehilangan sang kekasih. "Kita berempat ke Bromo karena ingin memotret matahari tenggelam," tutur Deni saat ditemui wartawan di Rumah Sakit (RS) Mohammad Saleh, Probolinggo, Selasa (8/8/2004) malam.Deni menjadi salah satu korban luka meletusnya Bromo. Pacar Deni, Eko Cahyono tewas dalam musibah tersebut. Saat ditemui wartawan, mahasiswi semester dua Universitas Bayangkara, Surabaya itu tak lagi menangis. Hanya mata Deni tampak menerawang seperti tak percaya dengan musibah yang dialaminya. Deni mengenang baru jadian dengan Eko Cahyono setahun yang lalu. Deni dan Eko satu kampus di Universitas Bayangkara. Deni di fakultas Ekonomi, sedangkan Eko di fakultas Hukum. Keduanya sama-sama mahasiswa semester dua.Gadis berusia 20 tahun itu menuturkan Eko Riawan dan Eka Riani merupakan kawan-kawannya di kampus. Mereka berempat tiba di Bromo pukul 23.00 WIB (Senin, 7/6/2004). Pagi harinya, Selasa (8/6/2004), mereka menyaksikan matahari terbit alias sunrise di gunung Penanjakan. Melihat matahari terbit ini merupakan salah satu "ritual" yang tidak pernah dilewatkan wisatawan. Saat matahari terbit pemandangan sekitar Bromo konon sangat indah.Ingin melengkapi pengalaman wisatanya, sorenya, kedua pasangan ke kawah Bromo ingin memotret matahari tenggelam. Namun tak dinyana saat tiba di puncak Bromo, sekitar pukul 15.15 WIB, sang gunung mengamuk. Tiba-tiba saja, gunung mengeluarkan asap. Bau belerang menyengatpun tercium. "Saya bersama teman-teman langsung turun karena asapnya sangat menyengat hidung," tutur Deni.Deni melihat wisatawan lainya juga turun dari puncak Bromo. Mereka bergegas menuju ke bawah. Namun tiba di lautan pasir, tiba-tiba kawah Bromo menyemburkan batu-batu panas. Deni dan rombongannya pun tak bisa mengelak tertimpa semburan batu. "Saya takut sekali. Batu-batu itu jatuh dari atas. Besar-besar sekali. Tubuh teman-teman tertimpa semua,"tutur gadis itu. Di tengah kekalutan itu, Deni melihat pacarnya Eko terkena batu di kepala. Deni berteriak minta tolong tapi tak ada yang menolong. "Saya melihat sendiri Eko tertimpa batu di kepalanya. Saya berteriak minta tolong, tapi tak ada yang datang. Mungkin karena saat itu masih panas. Semua sandal yang kita pakai pun leleh," cerita Deni sedih.
(iy/)











































