Akrobat politik ini ditunjukkan oleh hampir semua anggota FPDIP DPR di rapat paripurna DPR. Satu persatu anggota FPDIP mengutarakan semangat partainya meminta penundaan pembangunan gedung baru DPR. Karena pimpinan DPR membatasi interupsi yang melimpah ini, FPDIP akhirnya memutuskan walkout.
Memang tak hanya PDIP yang walkout meninggalkan rapat paripurna DPR. Partai Gerindra pun bersikap semua. Namun posisinya sedikit berbeda, sikap akhir Gerindra memang menolak pembangunan gedung baru DPR.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ceritanya anggota FPDIP hendak meluruskan posisi partainya. Sebab pimpinan DPR menuturkan hanya dua fraksi yang menolak gedung baru DPR, Gerindra dan PAN. PDIP merasa ikut meminta pembangunan gedung baru DPR ditunda, namun pimpinan DPR sudah menyimpulkan ada delapan fraksi termasuk PDIP mendukung pembangunan gedung baru DPR.
"Ini namanya PDIP sedang berakrobat politik. Kalau Gerindra dan PAN yang berakrobat saya tidak masalah kan mereka menolak," sindir anggota DPR dari FPKS, Nasir Jamil, kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (8/4/2011).
Menurut Nasir, akrobat politik ini terpaksa diperankan PDIP di rapat paripurna. PDIP mencoba mengambalikan nama baiknya sebagai partai yang pro rakyat.
"Karena ini kan jadi perhatian publik, makanya tentunya PDIP berusaha memperlihatkan kepada publik bahwa dia menolak gedung baru," duganya.
(van/anw)











































