Misalnya saja Yahya, seorang tukang sapu yang biasa bekerja di Bundaran Hotel Indonesia (HI). Dia mengatakan, pembangunan gedung baru DPR hanya pemborosan. Daripada DPR membangun gedung baru, Yahya menyarankan agar gedung lama saja yang direnovasi.
"Kalau pembangunan gedung ini kan memakan uang banyak, jadi seperti pingin terlihat mewah sendiri. Mereka tidak memikirkan rakyat yang memiliki rumah kumuh. Seharusnya yang lama direhab saja, jadi tidak memerlukan biaya yang banyak," ucapnya saat ditemui di Bundaran HI, Jakarta, Jumat (8/4/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rakyat masih susah, tapi kalau rakyat sudah sejahtera ya silakan saja," imbuhnya.
Meiti, seorang dokter gigi yang membuka praktek di Jakarta juga menolak rencana pembangunan gedung baru tersebut. Terlebih, sejumlah fasilitas yang selama ini digembar-gemborkan hanya untuk kepentingan pribadi saja.
"Nggak usah buang-buang uang. Mending kita pakai untuk yang lain, apalagi gedung-gedung itu dilengkapi dengan fasilitas kepentingan pribadi jadi sebaiknya tidak usah," paparnya.
Sementara itu, seorang karyawan swasta Mauli, juga menilai masih banyak hal yang lebih penting untuk diurus ketimbang masalah gedung baru DPR. Menurut dia, kantor hanya penunjang saja, bukan hal utama dalam sebuah pekerjaan.
"Saya benar-benar tidak setuju. Apalagi sekarang teknologi sudah semakin maju, bekerja di mana saja bisa pakai laptop. Jadi gedung hanya formalitas," ungkapnya.
(mad/fay)











































