Setelah sidang paripurna yang digelar di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (8/4/2011) hujan interupsi penolakan gedung baru, kini giliran pihak-pihak yang setuju berbicara. Mereka menyebut mereka yang tidak setuju munafik.
"Kita jangan munafiklah, mencari popularitas tapi menghancurkan diri kita sendiri. Istana dan DPR itu beranda kita, kalau jorok ya itulah kondisi kita. Jadi jangan pikir aneh-aneh," kata politisi asal Fraksi Partai Golkar Nudirman Munir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nudirman tetap ngotot kantor yang saat ini digunakan oleh anggota DPR sangat tidak layak. Ruangan saat ini bahkan jauh lebih sempit dibanding luar ruang sekretaris para bupati di daerah.
"Kalau bupati datang ke DPR dia bilang jauh lebih luas ruang sekretaris saya ketimbang ruang anggota, apalagi dibanding ruang kepala dinas," kata Nudirman.
Nudirman juga mengeluhkan tidak adanya wc di setiap ruang anggota dewan. "Kalau kita ke wc antre nggak?" tanya Nudirman. "Nggak, nggak," jawab anggota DPR yang lain bersahut-sahutan.
"Kalau kita nggak antre, saya siap mundur dari DPR," cetus Nudirman.
Politisi asal Partai Demokrat Mulyadi juga mengungkapkan hal senada. Menurutnya, selama ini masyarakat diberi informasi yang salah. Misalnya soal dana untuk setiap ruangan anggota DPR.
"Selama ini rakyat diberi informasi yang salah kalau gedung ini tidak dibangun yang rugi juga rakyat dibilang Rp 800 juta per anggota dan luasnya 111 meter padahal itu untuk 8 orang. Anggota DPR bersama staf," kata Mulyadi.
Mulyadi pun menyarankan pihak-pihak tertentu tidak memanfaatkan pembangunan gedung DPR untuk mencari panggung. "Masih banyak panggung lain untuk mencari simpati rakyat
kalau mau cari simpati rakyat jangan rumah kita dirubuhkan. Mari kita berpikir masak persiapan teknis dibahas di paripurna," katanya.
(ken/nrl)










































