Ketum GP Ansor: Jangan Sampai Banser Larang Film '?'

Ketum GP Ansor: Jangan Sampai Banser Larang Film '?'

- detikNews
Kamis, 07 Apr 2011 18:02 WIB
Ketum GP Ansor: Jangan Sampai Banser Larang Film ?
Jakarta - Kecaman Banser Nahdlatul Ulama Cabang Kota Surabaya tertuju pada film '?' (baca: Tanda Tanya) besutan Hanung Baramantyo. Kendati demikian, Ketum GP Ansor Nusron Wahid mengingatkan agar Banser jangan sampai melarang penayangan film tersebut.

"Ini Hanung sudah bebas menafsirkan karena ini negara demokrasi, rakyat bebas memilih film ini. Jangan sampai Banser melarang tidak boleh ditayangkan. Sama halnya Hanung bebas memahami Banser," kata Nusron dalam jumpa pers bersama Hanung di rumah makan Oyster, Plaza Senayan, Jakarta, Kamis (7/4/2011).

Dia mengimbuhkan, karena Indonesia adalah negara demokrasi, maka dirinya pun bebas menilai film '?'. Menurutnya, teks yang terkandung dalam film '?' bias makna. Karenanya, cara Nusron memahami film tersebut bisa berbeda dengan si sutradara.
"Sebagai sebuah gagasan besar kebhinnekaan, film ini patut didukung, film tentang kulturalisme dan kebebasan agama. Kita dukung Hanung-Hanung yg lain," ucap Nusron.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Nusron, ada sedikit kecelakaan dalam adegan dalam film '?' sehingga jadi multitafsir. Dia menjelaskan, orang yang bergabung dalam Banser itu adalah wujud pengabdian, bukan pekerjaan.

"Tapi ini menjadi sebuah teks, ini menunjukkan belum sempurnanya dan belum totalitasnya saudara Hanung," cetusnya.

Letak belum totalitasnya Hanung dalam kacamata Nusron terlihat dari ditampilkannya Soleh sebagai sosok Banser dalam film tersebut. Di dalam film itu, sosok Banser digambarkan mudah cemburu, dangkal pengetahuannya dan suka mengamuk.

"Soleh sudah diangkat jadi Banser, di mana Soleh itu jadi provokator. Kalau jadi Banser, bukan hanya seragam," sambung Nusron.

Dia pun menyarankan kepada Hanung, lain kali jika membuat film serupa agar lebih bagus dalam pendalamannya. Misalnya dilakukan dengan wawancara mendalam pada kalangan yang hendak diangkat.

"Inilah bagaimana ketidakpahaman Hanung dalam teks. Lain kesempatan ada pendalaman literatur," saran Nusron.

Sementara itu, Hanung dalam kesempatan yang sama mengungkapkan, judul film dibuat '?' karena Hanung bingung memaknai toleransi di Indonesia. Menurutnya, film ini sengaja dibuat multitafsir sehingga tergantung pada penilaian penonton.

Sebelumnya, Banser NU Surabaya menilai film tersebut tidak sesuai atau tidak pas dengan karakter Banser sebenarnya. Pertama, Banser bukanlah pekerjaan seperti yang digambarkan dalam film. Banser adalah pengabdian kepada NU sebagai induk organisasi dan Indonesia sebagai negara. Kedua, Banser tidaklah benar suka mengamuk seperti yang ada di film.


(vit/fay)


Berita Terkait