detikNews
Rabu 06 April 2011, 19:47 WIB

AR Baswedan Layak Dapat Gelar Pahlawan Nasional

- detikNews
Yogyakarta - Alwad Abdul Rahman Baswedan atau sering disebut AR Baswedan pendiri Partai Arab Indonesia (PAI) sebelum Indonesia merdeka merupakan salah satu tokoh\/sosok yang memiliki peranan penting dalam sejarah Indonesia. Dia pun layak mendapat gelar pahlawan nasional atas perjuangan dan dedikasinya untuk Indonesia.

\\\"Sebagai seorang peranakan Arab, dia memilki integritas tinggi dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia bersama tokoh-tokoh nasional lainnya,\\\" kata Ketua Jurusan Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) Adaby Darban dalam Seminar Nasional: \\\"AR Baswedan : Sejarah dan Perannya Merajut dalam Merajut ke-Indonesia-an\\\" di Gedung UC Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (6\/4\/2011).

Adaby mengatakan, almarhum Baswedan termasuk dalam tim di bawah koordinator H Agus Salim berjuang di luar negeri agar Indonesia memperoleh pengakuan sebagai negara. Dia berhasil meyakinkan negara-negara Arab di Timur Tengah sehingga Indonesia waktu itu memperoleh dukungan dari Mesir dan Arab.

\\\"Inilah hubungan diplomatik pertama yang dilakukan Indonesia yang dilakukan AR Baswedan di negara-negara anggota Liga Arab,\\\" katanya.

Surat pengakuan itu, lanjut Adaby, oleh Baswedan diselipkan di kaos kaki untuk menghindari ketatnya pemeriksaan pemerintah Hindia Belanda. Surat itu lalu diserahkan Baswedan ke Presiden Soekarno di istana Gedung Agung.

\\\"Soekarno waktu sumringah karena misi diplomatik pertama berhasil dilakukan,\\\" katanya.

Suratmin, mantan peneliti dari Badan Kajian Sejarah dan Nilai Tradisi Yogyakarta, yang dulu pernah menulis biografi AR Baswedan mengatakan, sebagai seorang keturunan Arab, Baswedan selalu dikenang dalam konteks sejarah di Indonesia. Ia tidak saja berjuang lewat Partai Arab Indonesia yang didirikan tahun 1934, namun dia juga berani menegaskan bahwa Indonesia adalah ibu pertiwi bagi keturunan Arab.

\\\"Dia berhasil menyatukan orang-orang Arab dari berbagai suku dan klan melalui PAI yang saat itu susah untuk disatukan. Dia juga menegaskan rasa nasionalismenya dengan mengatakan tanah tumpah darahnya Indonesia,\\\" kata Suratmin.

Sementara itu, cucu AR Baswedan, Anies Rasyid Baswedan, yang hadir mewakili keluarga, menuturkan pengalaman semasa hidupnya bersama sang kakek. Saat pensiun, AR Baswedan memilih menetap di Yogyakarta. Sekitar tahun 1980-an, AR Baswedan tiba-tiba diundang Wakil Presiden Adam Malik untuk bertemu di Gedung Agung Yogyakarta. Anies mengendarai motor vespa satu-satunya yang dimiliki sang kakek untuk mengantarkan ke Gedung

Agung. Usai bertemu Adam Malik, AR Baswedan berpamit dan diantar hingga pintu keluar. Adam Malik menggira, Baswedan dijemput menggunakan mobil. Dia pun buru-buru meminta petugas istana untuk menyingkirkan mobil RI 2.

Ternyata lanjut Anies, dia hanya berjalan kaki saja. Melihat hal itu, Adam Malik terenyuh, ternyata seorang pensiunan menteri zaman kabinet Sjahrir tetap hidup dalam suasana kesederhanaan. \\\"Beberapa bulan kemudian, sebuah mobil dari Adam Malik yang dikirim ke rumah kakek saya,\\\" ungkap Anies.

Anies menambahkan sikap sederhana yang ditunjukkan almarhum kakeknya, AR Baswedan setelah pensiun dari menteri di era kabinet Sjahrir adalah kesederhanaan dalam hidup sehari-hari.

\\\"Setelah pensiun, beliau itu tidak punya telepon dan mobil. Kalau mau telepon pinjam tetangga. Saya bertugas mengantar beliau ke mana-mana, bertemu para tokoh hingga ambil pensiun, setiap terima pensiun, saya diberi persenan, lumayan besar waktu itu,\\\" kenang Anies.




(bgs/irw)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed