PBB dan Negara-negara Barat Kecam Pertumpahan Darah di Yaman

PBB dan Negara-negara Barat Kecam Pertumpahan Darah di Yaman

- detikNews
Rabu, 06 Apr 2011 11:13 WIB
PBB dan Negara-negara Barat Kecam Pertumpahan Darah di Yaman
Sanaa - Amerika Serikat dan negara-negara Barat mengecam pertumpahan darah di Yaman. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga mengutuk kekerasan aparat Yaman terhadap demonstran yang telah menelan banyak korban jiwa itu.

Badan Komisioner Tinggi PBB untuk HAM, UN High Commissioner for Human Rights mengecam penggunaan kekerasan yang berlebihan oleh aparat polisi Yaman.

"Kami sangat khawatir dengan laporan-laporan penggunaan kekerasan yang berlebihan dan tidak proporsional, termasuk senjata-senjata mesin terhadap para demonstran damai oleh pasukan keamanan pemerintah," ujar juru bicara Navi Pillay seperti dilansir AFP, Rabu (6/4/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kecaman juga disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) Inggris William Hague. "Pada awal Maret, Presiden Saleh berjanji untuk mempertahankan pengendalian maksimum dalam penggunaan pasukan keamanan Yaman dalam mengendalikan demonstrasi damai. Kami mendesak keras dia untuk menepati janji itu," ujar Hague.

Sedangkan pemerintah Italia mendesak pemerintah Yaman untuk menghentikan semua bentuk kekerasan terhadap para demonstran. Italia juga meminta Yaman untuk membuka jalan guna melakukan dialog secepat mungkin dengan para demonstran yang menginginkan reformasi.

Bahkan Uni Eropa juga mendesak Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh untuk memulai transisi politik tanpa ditunda-tunda lagi. Sebelumnya pemerintah Amerika Serikat juga mendesak Saleh untuk membicarakan penyerahan kekuasaan secara damai. AS mengingatkan bahwa jaringan teroris Alqaeda siap memanfaatkan situasi di Yaman.

Aksi-aksi demo antipemerintah dimulai di Yaman sejak Februari lalu. Sejauh ini lebih dari 100 orang telah tewas akibat kekerasan yang dilancarkan pasukan keamanan Yaman terhadap para demonstran.

Para demonstran mendesak pengunduran diri Saleh yang telah berkuasa selama 32 tahun. Namun Saleh bersikeras bahwa dirinya baru akan mundur setelah masa jabatannya berakhir. Sementara demonstran menginginkan Saleh mundur secepatnya.


(ita/nrl)


Berita Terkait