Sebab, menurut Leo, banyaknya televisi membuat persaingan tidak sehat dan sekadar mengejar rating.
"Sekarang di Jakarta ada 11 televisi komersial, yang ideal ada 3. 11 Televisi bersaing demi apa yang dinamakan rating. Sebagian berdarah-darah, kompetisi yang tidak sehat, kualitas selera rendah," kata Leo Batubara usai seminar 'Tolak Monopoli TV Swasta' di Gedung Jakarta Media Center (JMC), Jl Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (5/3/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
buru-buru ditanggapi sebagai monopoli opini.
"Rencana tersebut seolah-olah sudah menuju monopoli. Ada 2 prinsip yang dipakai untuk menilai. Pertama, apakah akuisisi itu sesuai dengan demokratisasi penyiaran? Demokratisasi itu keberagaman, kebhinekaan.
Kedua mengenai ownership (kepemilikan-red).Jangan di Jakarta saja. Ini
untuk daya dukung ekonomi yang menyebar," tandas wartawan senior ini.
Seirama dengan Leo Batubara, mantan Ketua Pansus RUU Penyiaran Paulus
Widiyanto juga menyatakan hal serupa.
"Idealnya 3 atau 4 stasiun televisi. Itu belum titik. Masih ada lanjutannya. Yaitu tidak hanya di Jakarta. Satu bisa di Makassar, satu di Surabaya, satu di Medan. Dengan kondisi sekarang, 'Selamat Pagi' di Jakarta sudah 'Selamat Siang' di Papua. 'Selamat Sore' di Jakarta sudah 'Selamat Malam' di Papua," ucap Paulus pada kesempatan serupa.
Dia juga menilai dengan 11 stasiun televisi membuat persaingan tidak sehat. Dia mencontohkan di Amerika Serikat, stasiun televisi nasional hanya ada 4 yakni ABC, CBS, Fox dan NBC.
"Amerika saja yang berpendapatan perkapita berkali-kali lipat dari Indonesia hanya memiliki 4 stasiun televisi bersiaran nasional. Kita 11 stasiun. Ini tidak sehat," tandas Paulus.
(Ari/anw)











































