Agung membentuk tim yang bertugas untuk membuat grand design tentang lay out gedung baru.
"Supaya tidak asa asal-asalan, seperti bagaimana nanti letaknya dan bagaimana pembangunannya harus tidak melanggar kebutuhan ruang terbuka hijau di mana 30 persen bangunan dan 70 persen lainnya taman dan ruang terbuka hijau," papar Agung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agung menuturkan, perencanaan detail belum dilakukan seperti ruangan atau yang lainnya.
"Kita hanya buat master plannya saja hingga jika nanti kalau ada pembangunan gedung baru tidak asal-asalan. Misalnya, gedung itu sampai menghancurkan gedung kura-kura (gedung Nusantara) yang sekarang ini. Jadi kita mengatur letaknya dan hanya membuat master plannya saja," ujar politisi Partai Golkar ini.
Agung mengaku pernah berencana menyelenggarakan sayembara desain secara umum. Namun, rencana tersebut tidak bisa terwujud lantaran masa jabatannya habis.
"Memang waktu itu kebutuhan bangunan semakin mendesak karena bangunan gedung yang saat ini sudah overloaded. Tetapi kita tidak sampai menganggarkan dana. Kita belum sampai ke sana, kita hanya buat master plannya saja," kata dia.
(aan/nrl)











































