Perceraian Presiden Guatemala agar First Lady Bisa Nyapres Dihalangi

Perceraian Presiden Guatemala agar First Lady Bisa Nyapres Dihalangi

- detikNews
Selasa, 05 Apr 2011 10:01 WIB
Perceraian Presiden Guatemala agar First Lady Bisa Nyapres Dihalangi
Guatemala - Perceraian dan pemilihan presiden (pilpres) sangat berkaitan erat di Guatemala. Agar bisa mencapreskan diri menggantikan suaminya, First Lady Guatemala, Sandra Torres, bermaksud bercerai dengan suaminya, Presiden Alvaro Colom. Namun langkah ini tidak berlangsung mulus.

Sekelompok pengacara mendaftarkan gugatan untuk memblokir perceraian itu. Sekadar diketahui, UU Guatemala melarang pasangan atau kerabat presiden ikut pilpres.

Hakim Mildred Roca mengatakan permohonan yang diajukan di Mahkamah Agung negara Amerika Tengah itu, meminta untuk "menangguhkan proses perceraian" dari pasangan Guatemala-1 itu. Demikian diberitakan AFP, Selasa (5/4/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gugatan tersebut dan gugatan serupa yang diajukan pekan lalu merupakan drama terbaru di Guatemala di mana First Lady dan Presiden setuju untuk bercerai untuk menghindari rintangan hukum yang menghadang Torres untuk bertarung di pilpres.

Mynor Berganza, seorang pengacara yang terlibat dalam gugatan itu, mengatakan perceraian pasangan presiden itu "mempengaruhi kepentingan umum" karena berusaha untuk "menghindari atau melewatkan" larangan konstitusional.

Pada tahun 1989, Mahkamah Konstitusi melarang istri Presiden Vinicio Cerezo untuk mencapreskan diri.

Hakim yang menangani berkas perceraian Colom-Torres mendapatkan keamanan ekstra sejak menerima ancaman pembunuhan dari seseorang yang mengaku menentang gugatan perceraian tersebut.

Bulan lalu Torres menyatakan, dia memilih bercerai meskipun dia mencintai suaminya. "Cinta untuk Guatemala adalah alasan mengapa Presiden dan aku menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan kita sendiri," dalih Torres.

Torres meneteskan air mata saat ia menggambarkan "cinta yang besar dan solid" yang dia rasakan pada suaminya, namun cintanya pada rakyatnya tanpa batas.

Kritik yang berkembang menuding, perceraiannya hanyalah mengolok-olok konstitusi. Namun jelas keduanya menyangkal.


(nrl/nvt)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini