'Perang Troya' Dua Suku Timika, Tuntut Korban Tewas 2:2

'Perang Troya' Dua Suku Timika, Tuntut Korban Tewas 2:2

- detikNews
Senin, 07 Jun 2004 16:10 WIB
Jakarta - Pertikaian dua suku di Timika mirip dengan Perang Troya. Anak panah melesat dari busur mencabut nyawa. Jiwa yang melayang 2 banding 1, dan menuntut perbandingan impas.Perang Troya dimitoskan dipicu penculikan istri raja Sparta Menelaus. Abangnya, yakni Raja Agamemnon dari Yunani berang. Troya tidak mau mengembalikan istri Menelaus. Agamemnon pun memerintahkan penghancuran Troya. Duel satu lawan satu dengan tameng dan pedang, serta serbuan anak panah pun mencabut banyak nyawa.Tapi itu legenda sejarah ngetop yang kini difilmkan. Sedangkan di Timika, ini benar-benar nyata, dan bukan terjadi pada zaman kuno. Namun gaya perang kuno masih menjadi kehidupan dua suku di Timika yang bertikai. Duel dengan peralatan tempur kuno mewarnai pertempuran. Satu nyawa dibayar satu nyawa.Ihwal pertikaian Suku Damal dengan Nduga disampaikan Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Paiman dalam jumpa pers di Mabes Polri Jakarta, Senin (7/6/2004).Cerita bermula sekitar 1 bulan lalu. Saat itu di Timika terjadi perkelahian antar-keluarga dalam Suku Damal. Perkelahian itu mengakibatkan salah satu anggota Suku Damal meninggal dunia. Pelaku pembunuhan melarikan diri ke Suku Nduga.Selama 1 bulan, pelaku pembunuhan dilindungi Suku Nduga. Akhirnya Sabtu 5 Juni 2004 sekitar pukul 04.00 WIT, Suku Damal menyerang Suku Nduga di Kelurahan Harapan Kwangki Lama Timika.Uniknya, lokasi itu memang merupakan kawasan yang disepakati kedua suku untuk melakukan peperangan. "Daerah itu terisolir dan tidak dilewati rakyat biasa," kata Paiman.Alasan Suku Damal menyerang Suku Nduga karena pelaku pembunuhan belum diserahkan kepada polisi, dan masih bersembunyi di Suku Nduga.Akibat penyerangan itu, salah satu anggota Suku Nduga bernama Pandiman Alom (21) meninggal dunia sekitar pukul 05.00 WIT. Suku Nduga pun marah dan melakukan penyerangan balasan kepada Suku Damal.Akibatnya beberapa orang kena luka panah dan satu anggota Suku Damal bernama Jumar Murid (25) meninggal dunia. Hingga 7 Juni 2004 pukul 07.00 WIT, masih terjadi pertempuran kedua suku di lokasi yang sama bak gladiator itu.Aparat kepolisian pun turun tangan untuk mengamankan dan menenangkan situasi. Polda Papua sudah menurunkan 3 SSK Brimob dan anggota Dalmas Timika. Mereka menduduki kawasan perang agar kedua suku tidak melakukan peperangan kembali.Tapi apa daya. Aksi pendamaian dari polisi memakan satu korban luka. Bripka Waelce Lumere menjadi korban luka akibat terhujam tajamnya anak panah. Namun dia sudah dioperasi.Upaya perundingan damai pun dilakukan. Suku Nduga mengaku menerima damai. Namun menurut pengakuan Suku Nduga, pelaku pembunuhan yang menjadi pemicu peperangan itu sudah melarikan diri dan tidak berlindung lagi pada sukunya.Sedangkan Suku Damal terjadi pro dan kontra. Meski menerima perundingan damai, namun Suku Damal menganggap pihaknya masih dirugikan. Sebab di sukunya ada 2 korban tewas, sedangkan Suku Nduga baru satu orang yang tewas. Suku Damal meminta perbandingan nyawa hilang yang impas.Suku Nduga pun menawarkan penyelesaian secara adat kepada Suku Damal sebagai pengganti satu nyawa yang harus hilang dari sukunya. Jawaban dari Suku Damal belum didapat.Bagaimana kelanjutannya? Semoga tidak terjadi perang lagi. (sss/)


Berita Terkait