Pengamat politik dari Lembaga Survei Indonesia (LSI), Burhanuddin Muhtadi menjelaskan, fenomena loncat pagar itu terjadi karena pertemuan dua titik kepentingan antara kepala daerah dan partai politik.
"Kelapa daerah punya kepentingan pribadi karir politiknya. Apalagi untuk kasus Zainul, PBB punya masa depan suram setelah dalam pemilu lalu tidak lolos ambang batas parlemen. Sementara Demokrat masih punya masa depan," kata Burhanuddin saat dihubungi detikcom, Senin (4/4/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Misalnya saja PPP memperoleh suara terkecil di Bali karena tidak ada kader di jabatan kunci. Namun, perolehan PPP terbesar itu di Kalsel karena Gubernur Rudy Arifin berasal dari PPP. Jadi ada efek incumbency itu," ujar Burhanuddin.
Seperti diketahui beberapa kepala daerah juga melakukan loncat pagar. Misalnya saja Gamawan Fauzi (Gubernur Sumbar saat itu) dan Sinyo Harry Sarundajang (Gubernur Sulut) yang diusung PDI Perjuangan, namun akhirnya loncat ke Partai Demokrat.
(lrn/fay)











































