Selama sepekan, tentara pendukung Presiden Pantai Gading, Alassane Quattara menghadapi perlawanan sengit dari pasukan Laurent Gbagbo di kota utama Pantai Gading, Abidjan.
Kedua belah pihak terus bertempur untuk menguasai Pantai Gading. Suara desingan peluru dan tembakan mortir menghiasi hari-hari warga sipil. Pertempuran bahkan terjadi di sekitar Istana Presiden.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti dikutip dari reuters, Sabtu (2/4/2011), Komite Internasional Palang Merah mengatakan sedikitnya 800 orang tewas dalam kekerasan di kota Pantai Gading barat Duekoue, selama minggu ini.
Perang antar saudara ini dimulai sejak Outtara ditetapkan sebagai pemenang pemilihan presiden yang diakui internasional.
Jumlah korban diprediksi jauh lebih tinggi karena pertempuran terus terjadi. Belum lagi, pasukan Gbagbo jarang sekali mengungkapkan kerugian dan jumlah korban mereka atau jumlah korban sipil yang mereka bunuh.
Perang bersenjata di Abidjan merupakan protes pasukan Gbago untuk menolak kekuasaan Outtara. "Serangan mortir telah terdengar sejak kemarin malam. Bunyinya sangat keras dan kami berlindung di rumah kita," kata warga sekitar, Jules Konin.
(ape/ape)










































