Demikian tanggapan budayawan Radhar Panca Dahana mengenai kasus tewasnya Irzen Octa yang diduga akibat sengketa penyelesaian utang kartu kredit dengan Citibank. Ini disampaikannya usai diskuti radio Trijaya bertajuk "PSSI Mati Suri" di restoran Warung Daun, Jl Cikini Raya, Jakarta, Sabtu (2/4/2011).
"Itu suatu ironi. Citibank merupakan bank asing yang mengaku punya kultur baik tapi memakai cara preman begini," ujar Radhar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maka pihak penagih utang sebenarnya hanya merupakan alat bank. Tapi di sisi lain mereka merupakan penumpang gelap yang bisa ambil keuntungan dari masalah ekonomi antara nasabah dan bank.
"Seharusnya masalah utang diselesaikan secara perdata, bukan dengan cara-cara premanisme. Ini artinya hukum tidak berjalan," sambung Radhar.
Seperti diberitakan sebelumnya, Irzen Octa meninggal dunia saat hendak melunasi tagihan kartu kredit yang membengkak dari Rp 48 juta sampai Rp 100 juta. Irzen bertemu dengan tiga orang di salah satu ruangan Kantor Citibank di Menara Jamsostek, Jakarta. Korban kemudian ditemukan tewas di depan kantor tersebut.
Setelah memperoleh bukti cukup kuat, akhirnya polisi menetapkan 3 orang yang menemui Irzen tersebut sebagai tersangka. Country Corporate Affairs Head Citi Indonesia, Ditta Amahorseya, memastikan ketiganya bukanlah karyawan Citibank. Mereka adalah karyawan agensi.
"Kami sedang melaksanakan proses penyelidikan internal dan apabila didapatkan pelanggaran terhadap standar kode etik kami, maka kami akan memutuskan kontrak dengan perusahaan ini secepatnya," terangnya.
(lh/van)











































