Walaupun Umar memiliki kasta tinggi dalam struktur organisasi terorisme, balas dendam bukanlah cara kerja para teroris.
"Ketakutan Australia ini tidak berasalan. Kalau marah sama Pakistan, itu baru wajar," kata pengamat terorisme Mardigu WP pada detikcom, Jumat (1/4/2011)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Australia terlalu berlebihan. Jadi kita tahu bahwa Umar Patek ini memang harkatnya sangat tinggi, secara struktur ia juga tinggi. Di bom Bali ia menjadi otak atau ahli strategi. Ia network-nya sudah internasional, murid-muridnya memang menghormati dia. Tapi tertangkapnya Umar Patek berada di Pakistan bersama istrinya itu artinya ia terlihat mau tinggal jangka panjang, bukan hanya sekadar visit. Ia ditangkap karena perbuatan kriminal dan belum bisa diekstradisi ke Indonesia," bebernya.
Menurut Mardigu, tidak ada kemungkinan adanya serangan balik atau balas dendam karena itu bukanlah cara kerja organisme teroris.
"Tidak ada, tidak mungkin. Di dalam gerakan mereka, tidak ada balas dendam. Itu harus diingat. Gerakan seperti itu hanya ada kalau kekuatannya seimbang. Tapi mereka ini gerakannya melalui teror, secara diam-diam. Saya yakin tidak ada," jelasnya.
Dari dua jenis pergerakan teroris di Indonesia, gerakan terorisme yang mengarahkan sasarannya ke Amerika yang masih perlu diwaspadai karena masih menjalin kontak dengan pihak-pihak luar.
"Memang ada dua pergerakan, Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) atau Negara Islam Indonesia (NII) yang memang dari dulu cita-citanya di Indonesia. Dan ada satu lagi yang garisnya luar, lawannya Amerika. Yang lokal jauh lebih berkurang. Namun yang sasarannya internasional, mereka masih berhubungan dengan kontak-kontak mereka di luar negeri," katanya.
(nrl/nrl)











































