Setidaknya 250 tenaga profesional bekerja di pertambangan terbesar di Ibukota Uni Emirat Arab ini. Mereka bekerja di perusahaan minyak milik negara, Adnoc.
"Kalau jumlah tenaga kerja Indonesia di Adnoc ada 250. Ditambah keluarganya kurang lebih jadi sekitar 1.000 WNI di sini," ujar Presiden Indo Emirat Arab, Mardiyan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kompleks perumahan Ruwais, adalah sebuah perumahan mewah yang berada di tengah gurun di daerah Ruwais, Abu Dhabi. Kompleks yang sengaja dibangun untuk tempat tinggal para pegawai Adnoc ini letaknya sekitar 250 KM dari Kota Abu Dhabi.
Pada kesempatan tersebut, tidak hanya yang menyambut rombongan KBRI dan detikcom, sepuluh tenaga kerja profesional yang juga tinggal di kompleks tersebut ikut menyambut. Suasana kekeluargaan pun begitu terasa hangat.
"Semua yang bekerja di sini rata-rata sebelumnya kerja di Cilegon, Banten. Terus dapat tawaran ke sini," terang Mardiyan.
Nasib para tenaga profesional yang sebagian di bagian perawatan peralatan kilang minyak ini memang tergolong sangat baik. Selain gaji yang besar, perusahaan minyak ini juga memberikan berbagai fasilitas dan tunjangan.
"Alhamdulillah, apartemen dapat, tunjangan pendidikan untuk anak ada, kesehatan, fasilitas olah raga juga ada."
Tipe apartemen yang diberikan tidak didasarkan pada jabatan, melainkan jumlah keluarga. Semakin besar jumlah keluarga, maka apartemen yang diberikan akan semakin besar pula.
"Kalau anaknya 3, diberi apartemen yang 4 kamar. Kalau anaknya lima diberi yang 6 kamar, jadi bener juga pepatah banyak anak banyak rezeki," papar Mardiyan yang disambut tawa puluhan pekerja Adnoc yang datang ke rumahnya.
Namun stigma negatif bahwa WNI yang berada di Abu Dhabi hanya sekelas buruh informal masih melekat. Warga Arab mengira bahwa Indonesia adalah negeri pengirim TKW.
"Pernah ada teman yang pulang ke Indonesia naik pesawat kelas bisnis, tapi oleh penumpang di sebelah dibilang, majikan kamu baik ya sampai memberikan tiket bisnis," ceritanya.
Suasana kekeluargaan memang begitu kental di perantauan ini. Beberapa warga Indonesia yang juga bekerja di Adnoc terus berdatangan ke apartemen Madiyan setelah mendengar ada tamu dari Indonesia.
Menjelang siang, acara pun ditutup dengan makan siang bersama. Menu Soto Betawi, perkedel jagung, sambel goreng kentang dan semua makanan ringan seperti lemper dan risol menjadi kata perpisahan.
"Ibu-ibu di sini jadi pinter masak olahan Indonesia. Masakan seperti soto Betawi bisa jadi obat kangen tanah air," imbuh warga Bogor ini.
(her/anw)










































