Hayono Isman Puji Etika Politik SBY

Hayono Isman Puji Etika Politik SBY

- detikNews
Kamis, 31 Mar 2011 17:20 WIB
Solo - Anggota Dewan Pembina DPP Partai Demokrat, Hayono Isman, memuji keputusan politik keluarga besar Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menyatakan tidak akan maju dalam Pilpres 2014 nanti. Selain itu Hayono juga mengingatkan bahwa dalam politik di alam demokrasi, tidak ada yang selamanya akan menang.

"Terus terang saja kami-kami kecewa dengan keputusan itu karena beliau (SBY) adalah tokoh terbaik kami. Bu Ani juga punya hak untuk dipilih sesuai aturan demokrasi kita, namun Bu Ani juga tidak akan maju dalam Pilpres mendatang. Beliau, Pak SBY, mengatakan pasti nanti ada tokoh lain pilihan rakyat. Ini contoh bahwa dalam berdemokrasi harus menggunakan etika politik yang baik," ujar Hayono Isman.

Hal itu disampaikan Hayono saat menjadi pembicara dalam seminar bertema 'Mengawal Revisi UU Penyiaran' di Hotel Sahid Jaya, Solo, Kamis (31/3/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hayono mengatakan, contoh yang diberikan keluarga SBY teresebut harus segera disadari semua pihak yang ingin terjun di dunia politik praktis. Hayono lalu mencontohkan di berbagai pemilukada, banyak kepala daerah yang telah tidak diperbolehkan mencalonkan diri lagi kemudian mencalonkan keluarganya.

"Pak SBY tidak ingin suasana politik seperti yang terjadi di sejumlah Pilkada itu terjadi di tingkat nasional. Karena itulah beliau memutuskan bahwa beliau dan Bu Ani akan pensiun pada 2014. Beliau mengatakan, kalaupun ada anggota keluarganya yang mencalonkan diri sebagai presiden pada 10 atau 15 tahun mendatang dan dipilih rakyat, itu sepenuhnya kehendak rakyat," jelas Hayono.

Di alam demokrasi yang transparan seperti ini, lanjutnya, semua tergantung pada aspirasi rakyat. Saat ini Partai Demokrat yang menang, bisa saja nantinya turun lalu ada partai lain yang unggul.

"Demikian pula bisa saja misalnya, dalam Pemilu 2014 nanti perolehan suara PKB merosot dan tidak masuk dalam parlemen karena tidak memenuhi persyaratan batas minimal, lalu ada partai lain yang naik. Begitulah dinamika demokrasi. Dengan demikian justru demokrasi menjadi sehat," tutur mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) era Presiden Soeharto ini.

(mbr/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads