Eks Kapolsek di Aceh Akui Pernah Diinterogasi Orang Bersenjata

Sidang Abu Bakar Ba\'asyir

Eks Kapolsek di Aceh Akui Pernah Diinterogasi Orang Bersenjata

- detikNews
Kamis, 31 Mar 2011 16:15 WIB
Jakarta - Mantan Kapolsek Jantho Aceh, Yasir mengaku dirinya bersama anggota Polsek lainnya sempat bertemu dengan orang-orang bersenjata yang mengikuti pelatihan militer di Pegunungan Jalin Jantho, Aceh Besar. Yasir dan anak buahnya sempat diinterogasi oleh orang-orang tersebut, sebelum akhirnya dilepaskan.

Demikian dijelaskan mantan Kapolsek Kota Jantho, Yasir saat memberikan kesaksian di persidangan Abu Bakar Ba'asyir di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (Jaksel), Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan, Kamis (31/3/2011).

Yasir membenarkan bahwa pihaknya menerima laporan dari Camat Jantho tentang sekelompok orang melakukan pelatihan militer di pegunungan. Namun, pada awalnya dia mengaku bahwa dirinya sempat meragukan laporan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya pesimis menanggapinya, karena kecil kemungkinannya. Karena Aceh baru selesai konflik, konflik dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka), jadi saya nyatakan itu hanya isu-isu saja," tuturnya.

Namun kemudian pada 21 Februari 2010, Yasir mendapatkan pesan singkat dari Kasat Intel Polsek yang isinya mengajak naik gunung untuk menyelidiki informasi sekelompok orang latihan senjata dengan baju loreng. Akhirnya pada keesokan harinya, tanggal 22 Februari 2010, Yasir bersama anak buahnya sebanyak 7 orang, termasuk Kasat Intel naik ke atas Pegunungan Jalin Jantho bersama-sama. Mereka semua berpakaian preman.

Sesampainya di atas lereng gunung, mobil yang mereka gunakan tidak bisa melanjutkan perjalanan. Yasir dan 5 anak buahnya pun melanjutkan berjalan kaki, sedangkan 2 orang lain menunggu di mobil. Setelah berjalan kurang lebih 1,5 jam, mereka ketemu orang naik sepeda motor dua orang berboncengan. Salah satunya membawa tas ransel.

"Ranselnya sempat saya pegang dan ternyata mencurigakan, mereka bilang isinya pakaian. Mereka melanjutkan ke arah turun, kami naik," jelasnya.

Namun, karena curiga dengan isi tas tersebut, Yasir memerintahkan anak buahnya untuk memberi tahu dua anggota yang ada di bawah untuk mencegat mereka dan kembali memeriksa ranselnya. Menurut pengakuan anak buahnya, dua orang bersepeda motor tersebut ditemui berada di dekat SPBU kota Jantho dan saat dihentikan petugas, mereka justru berlari ke arah gunung.

Sementara itu, Yasir yang berada di gunung masih melanjutkan perjalanannya. Ketika hampir tiba di tepi sungai, tiba-tiba Kasat Intel berbalik arah dan berlari kencang sembari berteriak meminta semuanya ikut berlari.

"Saya tidak tahu apa sebabnya disuruh lari, saya ikut lari kencang. Lalu mereka masuk ke arah jurang yang agak terjal. Saya mau tidak mau ikut juga," ucap Yasir.

Saat bersembunyi tersebut, diketahuilah ada orang-orang bersenjata yang mencari-cari keberadaan mereka. Seketika Kasat Intel berlari meninggalkan Yasir dan anak buahnya. "Saya lihat Kasat Intel sudah lari, tinggallah kita berlima. Langsung saya ditanyain salah seorang dari mereka ini," terangnya.

Yasir mengaku dirinya diinterogasi oleh orang-orang bersenjata yang jumlahnya sekitar 25-an orang tersebut. Orang-orang tersebut sebagian besar berjanggut dan berpakaian gamis. Mereka juga tampak membawa senjata laras panjang, seperti AK-47 dan M-16. Sebagian besar berdialek Jawa, hanya satu-dua orang yang bisa bahasa Aceh.

Saat ditanya hendak ke mana, Yasir mengaku dirinya menjawab hendak berburu rusa dan menangkap ikan. Namun orang tersebut tak lantas percaya dan meminta identitasnya.

"Coba lihat identitasnya, saya keluarkan KTP saya. Dalam KTP, saya anggota Polri, tapi saya bilang biasa kalau lagi sepi berburu," ungkap dia.

Selain itu, telepon selular Yasir dan anak buahnya juga sempat diminta. Namun, Yasir meminta agar kartunya saja yang diambil, bukan teleponnya.

"Setelah selesai memeriksa, mereka melanjutkan perjalanan. Kita pun maju pelan-pelan, jangan sampai mencurigakan. Jangan sampai mereka berubah pikiran, kok polisi dilepas," terangnya.

Selanjutnya, Yasir dan anak buahnya menyusuri sugai untuk kembali ke bawah. Keesokan harinya pada pukul 06.00 WIB, mereka baru sampai di Polres dan bertemu dengan Kasat Intel yang sebelumnya lari.

Dari pemeriksaan diketahui bahwa orang-orang yang mereka temui di pegunungan tersebut adalah teroris. Salah satu pengendara motor yang berhasil ditangkap, Sapta, mengaku pernah ikut pelatihan militer di Mindanao dan Timor Leste. "Saya ketahui setelah pemeriksaan di Kepolisian," tandasnya.

(nvc/nwk)


Berita Terkait