Ke Pakistan, Tim Polri Bawa DNA dan Sidik Jari Umar Patek

Ke Pakistan, Tim Polri Bawa DNA dan Sidik Jari Umar Patek

- detikNews
Kamis, 31 Mar 2011 14:12 WIB
Jakarta - Mabes Polri telah mengirimkan tim untuk mengecek kabar penangkapan gembong teroris paling dicari, Umar Patek, di Pakistan. Untuk bahan kroscek, Tim Polri membawa DNA dan sidik jari Umar Patek ke negara di Asia Selatan itu.

"Bawa DNA dan sidik jari," kata Kapolri Jenderal Timur Pradopo sebelum menghadiri Rapat Paripurna di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Kamis (31/3/2011).

Meski otoritas Pakistan sudah memastikan yang ditangkap adalah Umar Patek, namun Polri hingga saat ini belum bisa mengkonfirmasi hal itu. Termasuk mengenai kabar bahwa buronan Bom Bali I itu ditangkap bersama istrinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sekali lagi belum ada hasil yang bisa disampaikan untuk masalah itu," ujar mantan Kapolda Metro Jaya ini.

Kapolri juga belum bisa memastikan perihal kabar luka tembak yang dialamai Umar Patek. "Sekali lagi kami masih mengecek," kata Kapolri yang juga belum bisa memastikan apakah eks anggota Abu Sayyaf itu akan digelandang ke Jakarta.

Sementara Menlu Marty Natalegawa belum bisa mengkonfirmasi orang yang ditangkap itu Umar Patek atau bukan. "Yang saya tahu ada tim dari BIN dan Polri ke sana buat verifikasi. Dari Deplu yang di sana membantu," ujarnya.

Seperti diberitakan, otoritas Pakistan membenarkan pihaknya telah menangkap Umar Patek. Namun otoritas tidak menyebutkan kapan dan di mana Umar Patek ditangkap.

Umar Patek diduga terlibat dalam serangan Bom Bali I dengan target Sari Club dan Paddy's Bar di Kuta, Bali, pada 2002 silam. Sebanyak 202 orang tewas dalam kejadian itu, 88 orang di antaranya adalah warga negara Australia.

Umar Patek juga ditengarai berperan sebagai komandan lapangan pelatihan Jamaah Islamiyah di Mindanao, Filipina. Noordin M Top, yang berhasil dilumpuhkan Densus 88 beberapa waktu lalu, pernah menjadi muridnya.

Amerika telah menyayembarakan bagi penangkapnya senilai 1 juta dolar, lebih murah dibanding Dulmatin (10 juta dolar), yang tewas di Ciputat tahun lalu.

(lrn/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads