"Sekitar Februari 2010, saya ke gunung untuk mencari ikan kecil. Lalu berjumpa dengan masyarakat, lalu diberitahu Bapak mau ke gunung? Tidak usah ke gunung, ada gawat, orang bawa senjata," kata Bahrum seraya menirukan ucapan warganya.
Demikian kesaksian yang disampaikan Bahrum dalam persidangan Abu Bakar Ba'asyir di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, Kamis (31/3/2011).
Bahrum mengatakan, warga setempat melaporkan ada sekelompok orang yang melakukan pelatihan militer di pegunungan. Ciri-cirinya, sebagian besar peserta pelatihan militer berjenggot dan menggunakan baju ghamis. Selain itu, tidak bisa bahasa Aceh.
"Ramai, kira-kira ada lebih dari 20 orang," ujar Bahrum.
Setelah mengantongi informasi itu, Bahrum lantas melapor ke Kapolsek Jantho. Beberapa hari kemudian, Bahrum mendapat laporan dari kepolisian bahwa ada orang yang disandera dalam pelatihan militer tersebut. "Ada 5 orang disandera," kata dia.
Bahrum mengaku sempat mendengar baku tembak di wilayah pegunungan tersebut. Bahkan dilaporkan 1 orang dari masyarakat meninggal dan satu orang terluka.
Sebagai Camat, Bahrum lantas memberikan peringatan kepada masyarakat agar berhati-hati. "Saya memberitahukan kepada Kepala Desa dan masyarakat untuk tidak naik gunung, terutama pada malam hari dan mengefektifkan pos kamling," papar dia.
(nvc/aan)











































